RADARSOLO.COM – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo Agus Suprapto menyoroti persoalan menumpuknya sampah di jembatan batas kota, antara Kecamatan Kartasura, Sukoharjo dengan Kecamatan Laweyan, Kota Solo. Diduga sampah tersebut berasal dari aktivitas warga dari Kartasura.
Menurut Agus, sejumlah relawan telah memasang jaring pelampung penangkap sampah di bawah jembatan untuk menahan sampah yang terbawa arus. Namun, upaya ini belum menyentuh akar masalah, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya.
"Ini persoalan kesadaran. Perlu edukasi menyeluruh agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, apalagi di sungai. Kita tidak bisa menangani sendiri. Maka, kami mendorong adanya keterlibatan aktif dari pihak kecamatan, kepala desa, dan stakeholder lainnya,” ujar Agus saat dikonfirmasi, Rabu (25/6).
Agus menyebut pihaknya telah mengusulkan kepada Bupati Sukoharjo untuk menerbitkan Surat Edaran (SE) yang mewajibkan desa-desa mengelola sampah secara mandiri. Salah satu poin penting dalam SE tersebut adalah mendorong terbentuknya bank sampah di setiap RW dan pengalokasian anggaran pengelolaan sampah melalui APBDes atau WBDES.
“Harapannya, setiap desa sudah melakukan pengurangan sampah dari sumbernya. Sampah residu yang tidak bisa didaur ulang nantinya baru dibawa ke TPA,” jelas Agus.
Terkait penindakan pelanggaran, Agus menegaskan bahwa dalam Peraturan Daerah (Perda) sudah diatur sanksi bagi pelaku pembuang sampah sembarangan, dengan ancaman hukuman kurungan maksimal tiga bulan. Namun, pihaknya lebih menekankan pendekatan preventif melalui edukasi dan sosialisasi.
“Kami dorong agar di titik-titik rawan, terutama di sekitar jembatan, dipasang papan peringatan atau sosialisasi aturan. Kalau ada aduan dari masyarakat, akan kami tindaklanjuti, termasuk berkoordinasi dengan Satpol PP dan pihak terkait lainnya,” tambahnya.
Agus menyebut, kalau ada kegiatan sosialisasi atau edukasi, DLH siap hadir dan terlibat. Pihaknya juga terus koordinasi agar ke depan ada regulasi dan aksi nyata di lapangan. (kwl)
Editor : fery ardi susanto