Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Saluran Irigasi 25 Tahun Mampet, Anggota DPRD Sukoharjo Rogoh Kantong Pribadi Untuk Biaya Pengerukan

Iwan Kawul • Senin, 14 Juli 2025 | 03:05 WIB

 

Alat berat diterjunkan untuk mengeruk saluran irigasi di Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Sabtu (12/7).
Alat berat diterjunkan untuk mengeruk saluran irigasi di Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Sabtu (12/7).

RADARSOLO.COM – Saluran irigasi tersier di Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter mulai dikeruk, Sabtu (12/7). Saluran irigasi ini sudah 25 tahun tidak berfungsi karena sedimentasi.

Anggota DPRD Kabupaten Sukoharjo Sutoyo mengungkapkan, pihaknya mengeluarkan uang pribadi untuk terjunkan satu alat berat.

”Ada aduan dari petani disampaikan belum lama ini melalui gapoktan. Setelah itu saya dan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo langsung turun meninjau dan menggelar rapat khusus bersama kelompok tani untuk menggali akar persoalan,” ujar Sutoyo, Minggu (13/7).

Sutoyo menjelaskan, saluran irigasi ini adalah saluran tersier yang selama 25 tahun tidak berfungsi. Akibatnya petani tidak bisa masa tanam tiga. Maka disepakati normalisasi dilakukan secara swadaya.

”Ya ini dari pribadi, untuk membantu petani. Karena Kecamatan Nguter kan masuk dalam Daerah Pemilihan saya. Kalau saluran ini nanti dinormalisasi, petani siap tanam tiga kali setahun. Ini akan berdampak besar bagi produktivitas pertanian,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno menjelaskan, saluran irigasi ini berada di Desa Kedungwinong. Sedangkan air irigasi mengalir ke Desa Daleman, Kecamatan Nguter.

Saluran irigasi sepanjang 575 meter tersebut merupakan saluran tersier untuk pengairan bagi sekitar 80 hektare lahan pertanian di Desa Daleman. Namun selama dua dekade lebih, saluran tersebut tertutup sedimen dan nyaris rata dengan jalan.

Hal itu membuat petani hanya mengandalkan limpahan air atau air buangan. Sehingga tidak dapat menjalankan masa tanam ketiga setiap tahunnya.

”Pertama, dilakukan revitalisasi saluran melalui pengerukan secara swadaya yang didukung oleh anggota DPRD Sukoharjo. Kedua, untuk solusi jangka panjang, dinas pertanian akan mengusulkan bantuan keuangan swakelola kepada Bupati Sukoharjo,” tandasnya. (kwl/adi)

Editor : fery ardi susanto
#Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo #swasembada pangan sukoharjo #saluran isigasi mampet sukoharjo