RADARSOLO.COM – Desa Tepisari, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo terus menebar inspirasi bagi wilayah lain lewat geliat pertanian hortikultura. Juli 2025 ini, panen melon jenis Amanda kembali menegaskan bahwa potensi desa tidak lagi hanya soal padi dan palawija, tapi juga buah segar yang punya daya jual tinggi.
Dengan luasan lahan sekitar 3.000 hingga 3.500 meter persegi dan kapasitas tanam mencapai 3.000 batang, para petani di Tepisari berhasil membudidayakan melon Amanda dengan bobot rata-rata 2,5 hingga 3 kilogram per buah. Tak hanya tampil menarik, rasanya pun manis dan renyah—cocok untuk pasar premium.
“Ini panen dari bagian utara lahan, nanti bagian selatan menyusul. Penjualannya sebagian melalui bakul lokal, dan sebagian langsung dikirim ke Jakarta. Artinya, kualitasnya sudah bisa bersaing di luar daerah,” ungkap Basuki Rahmat, Kepala Desa Tepisari, Minggu (20/7).
Menurut Basuki, dengan modal tanam sekitar Rp 30 juta, hasil panen bisa tembus Rp 60 juta saat harga bagus. Keuntungan dua kali lipat ini jauh melampaui hasil dari menanam padi.
“Kalau dibanding padi, jelas lebih menjanjikan. Karena itulah kini sudah ada sekitar 5 persen petani di Tepisari yang beralih ke melon, dan 5 persen lagi ke bawang merah. Sisanya masih di padi, untuk menjaga ketahanan pangan,” kata Basuki.
Ia juga menyebut bahwa budidaya melon sudah berlangsung lebih dari 10 tahun di desanya. Tanaman ini bisa ditanam sepanjang tahun, dengan hasil terbaik di musim kemarau seperti saat ini.
Usia tanam hanya sekitar 60 hari, sehingga panen bisa dilakukan beberapa kali dalam setahun.
Keberhasilan ini tak berdiri sendiri. Pemerintah Kecamatan Polokarto terus mendorong semangat inovasi pertanian di tingkat desa. Camat Polokarto Herry Mulyadi menyebut wilayahnya kini memantapkan diri sebagai sentra buah dan hortikultura yang patut dicontoh.
“Kami punya keunikan di setiap desa. Pranan dengan jambu air, Polokarto sentra alpukat dan jambu kristal, Kemasan dengan mangga, dan Tepisari, Jatisobo, Mranggen serta Bugel dikenal sebagai lumbung melon. Ini bukti bahwa jika dikelola dengan serius, desa bisa menghasilkan produk unggulan yang kuat,” tutur Herry.
Tak hanya buah, Polokarto juga tumbuh subur dengan tanaman hortikultura seperti bawang merah, cabai, dan terong. Sektor peternakan pun tak kalah maju, dengan banyak warga beternak ayam, kambing, dan sapi.
Dengan kombinasi dukungan pemerintah dan kegigihan petani, Polokarto menjadi gambaran ideal desa-desa modern yang tangguh, mandiri, dan inovatif. Desa yang tak hanya bertahan di tengah tantangan zaman, tapi juga memberi inspirasi bagi kecamatan lain di Sukoharjo dan sekitarnya.
“Jika setiap desa berani menggali potensi lahannya, hasilnya bukan hanya untuk kesejahteraan lokal, tapi bisa menjadi kekuatan ekonomi daerah,” pungkas Herry. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto