RADARSOLO.COM - Matahari belum tinggi, tetapi aura sakral sudah menyelimuti kompleks Makam Ki Ageng Balak, Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, Minggu (20/7) pagi. Langkah para peziarah yang datang dari berbagai penjuru tanah air seakan menyatu dalam napas sejarah dan spiritualitas yang mengendap di tempat ini.
Rombongan dari Ngawi, Madiun, Magelang, hingga yang terjauh dari Bengkulu, datang dengan semangat yang sama: mengikuti upacara ritual Pulung Langse.
Tradisi tahunan yang telah menjadi denyut budaya lokal itu dibuka secara meriah dan khidmat. Gunungan hasil bumi yang sarat makna diputar mengelilingi makam satu kali, sebelum akhirnya diperebutkan masyarakat.
Isinya buah, sayuran, dan aneka panen hasil bum. Disimbolkan sebagai berkah dari bumi yang patut disyukuri dan dibagi.
“Ini acara yang kami tunggu-tunggu tiap tahun. Kami percaya, selain nilai spiritual, ikut Pulung Langse membawa berkah dan ketenangan batin,” ujar Suripto, 55, peziarah asal Magelang.
Selepas gunungan, tarian Gambyong tampil memperindah suasana, menandai dimulainya prosesi utama: pelepasan kelambu makam oleh para sesepuh desa. Kelambu lama dipotong-potong, kemudian dibagikan kepada para peziarah.
Selembar kain itu bukan sekadar simbol, dipercaya membawa keberkahan bagi siapa pun yang menerimanya dengan niat baik.
Dalam sambutannya, Bupati Sukoharjo Etik Suryani menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang mendalam kepada masyarakat Desa Mertan, Kecamatan Bendosari dan Kenokorejo, Kecamatan Polokarto juga kepada Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sukoharjo.
“Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat Mertan dan Kenokorejo bisa menyelenggarakan upacara ini setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Etik.
Menurut Bupati Etik, Makam Ki Ageng Balak telah menjadi daya tarik spiritual dan budaya yang penting di Sukoharjo. Tradisi Pulung Langse bukan sekadar pelestarian adat, tapi juga momentum strategis untuk mengangkat potensi wisata ziarah.
“Ritual ini telah menjadi event budaya yang menarik wisatawan setiap tahunnya. Maka penting bagi kita menjadikannya bagian dari industri pariwisata lokal,” ujarnya.
Dengan mengacu pada UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan serta UU Otonomi Daerah, Bupati Etik menegaskan bahwa pengembangan wisata religi di Sukoharjo adalah kewenangan sekaligus tanggung jawab kabupaten.
“Kepariwisataan memberi multiplier effect yang besar—mulai dari jasa akomodasi, transportasi, cinderamata, hingga hiburan. Itu semua bisa menggerakkan ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Etik juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif menjaga dan mengembangkan kompleks makam Ki Ageng Balak, karena pelestarian tidak mungkin berjalan tanpa rasa memiliki.
Pulung Langse tak hanya menjadi ritual tahunan, tapi juga perayaan identitas dan solidaritas masyarakat Sukoharjo. (kwl/fer)