Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Pengembangan Peternakan Ayam Petelur Modern Ala Desa Tepisari Sukoharjo, Modal Usaha Dari APBDes 2025: Potensi Untung Rp 300 Juta

Iwan Kawul • Jumat, 25 Juli 2025 | 23:54 WIB

 

Kandang ayam petelur yang dibangun Pemdes Tepisari, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo yang nantinya dikelola BUMDes Sari Rejeki Tepisari.
Kandang ayam petelur yang dibangun Pemdes Tepisari, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo yang nantinya dikelola BUMDes Sari Rejeki Tepisari.

RADARSOLO.COM - Pemerintah Desa (Pemdes) Tepisari, Kecamatan Polokarto tengah menyiapkan lompatan besar dalam penguatan ekonomi lokal. Lewat pendekatan berbasis potensi desa, sektor peternakan unggas kini dipilih sebagai tulang punggung baru ekonomi desa.

Nantinya, peternakan dikelola Badan Usah Milik Desa (BUMDes) Sari Rejeki Tepisari. Berbekal anggaran Rp 172 juta dari APBDes Tepisari 2025, dibangun kandang ayam petelur berkapasitas 2.500 ekor.

Saat ini pembangunan sudah 100 persen dan siap beroperasi. Tak sekadar membangun fisik kandang, pemdes juga mendorong kemandirian ekonomi berbasis kelembagaan.

“Kandang dibangun oleh desa, sebagai bentuk dukungan terhadap usaha peternakan yang dikelola BUMDes. Setelah selesai, kandang kami sewakan ke BUMDes agar tidak terbebani investasi awal untuk bangunan,” kata Kepala Desa (Kades) Tepisari Basuki Rahmad, Jumat (25/7).

Kandang ayam dibangun di atas tanah kas desa. Kandang dikonsep modern, seluas 7,5 x 44 meter. Kandang model W ini terdiri atas dua bagian utama. Kandang luar sebagai area pelindung dan kandang dalam berupa sistem baterai tempat ayam-ayam ditampung.

“Konstruksi dan sistemnya dirancang agar efisien dan higienis. Sistem baterai memudahkan pengelolaan pakan, pembersihan, hingga panen telur,” imbuh Basuki.

Setelah kandang jadi, pemdes kembali menggelontorkan modal usaha senilai Rp 300 juta ke BUMDes. Dialokasikan untuk pembelian ayam dara (pullet) usia 13 minggu, plus pakan hingga ayam siap bertelur.

“Total modal Rp 300 juta itu mencakup pembelian 2.500 ekor ayam dara dengan harga Rp 5.200 per ekor. Ini sudah termasuk biaya pakan sampai ayam mulai produksi di usia 18 minggu,” bebernya.

Basuki menambahkan, siklus produksi ayam petelur secara optimal dimulai usia 26-55 minggu. Tingkat produktivitasnya mencapai 95 persen.

Di usia 55-70 minggu, produktivitas turun jadi 85 persen. Lalu menurun perlahan hingga akhir siklus di usia 90 minggu.

Dengan skema ini, musyawarah desa (musdes) sebelumnya telah menyusun simulasi usaha. Hasilnya, usaha peternakan ini diperkirakan mencapai break event point (BEP) dalam kurun dua tahun. Bahkan potensi labanya hingga Rp 300 juta.

“Kenapa bisa untung segitu? Karena kandangnya dibangun desa. Lalu disewakan dengan nilai sewa hanya Rp 5 juta per tahun. Artinya, BUMDes bisa fokus pada produksi, tidak terbebani biaya awal infrastruktur,” urai Basuki.

Langkah Pemdes Tepisari dalam menyinergikan APBDes, aset desa, dan kelembagaan BUMDes menjadi pola baru terkait pengelolaan ekonomi lokal. Pemdes bertindak selaku penyedia infrastruktur dan penyerta modal. Sedangkan BUMDes difungsikan sebagai operator bisnis.

“Ini bukan sekadar proyek peternakan. Ini model ekonomi berkelanjutan yang harapannya bisa direplikasi desa-desa lain. Kami ingin membuktikan, bahwa Desa Tepisari bisa mandiri secara ekonomi. Tanpa harus menunggu investor datang dari luar,” tegas Basuki.

Saat ini, progres pembangunan kandang telah rampung 100 persen. Selanjutnya, BUMDes tinggal menunggu pengiriman ayam dara yang sudah dipesan. Setelah itu proses budi daya dimulai. “Nanti penyerahan ke BUMDes menunggu ayam pullet-nya,” bebernya.

Langkah awal ini bukan tujuan akhir. Pemdes Tepisari memiliki visi besar untuk menciptakan ekosistem peternakan unggas berkelanjutan. Dalam jangka panjang, Basuki menyebut akan mengembangkan pelatihan bagi warga, memperkuat jaringan distribusi telur, serta mengolah produk turunan dari telur maupun limbah peternakan.

“Semua kami susun untuk jangka panjang. Tidak berhenti di pembangunan kandang saja. Harapannya, dari sini muncul lapangan kerja baru, keterampilan baru, dan perputaran ekonomi di tingkat desa,” papar Basuki. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#BUMDes Sari Rejeki Tepisari #kandang ayam petelur modern #kandang ayam desa tepisari sukoharjo