RADARSOLO.COM- Di saat layar kaca masih dipenuhi gambar demonstrasi ricuh di berbagai daerah, Sukoharjo justru menghadirkan pemandangan yang kontras.
Ribuan orang berkumpul, namun tak ada lemparan batu, tak ada teriakan provokatif. Yang ada hanya jabat tangan, tepuk tangan, senyum, dan pekik PSHT Jaya.
Sekitar 5.000 anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) se-Solo Raya memenuhi Lapangan Joho, Minggu (31/8/2025) dalam gelaran Gebyar Kemerdekaan yang dihelat Komando Barisan Terate (Kobaret).
Dari pagi hingga malam, kerumunan besar itu tetap terkendali, tertib, bahkan ramah.
“Acara ini kami rancang untuk merayakan kemerdekaan sekaligus memperkuat persaudaraan. Bukan ajang pamer kekuatan, melainkan ruang kebersamaan,” tegas Iwan Sistijono, Ketua Panitia.
Sesepuh Kobaret, Pakde Yanto, mengingatkan bahwa agenda peringatan kemerdekaan selalu digilir di Solo Raya. Namun ada yang berbeda tahun ini.
“Kami ingin memberi hiburan, tapi juga menjamin ketenteraman. Itu janji kami,” tegasnya.
Tak berhenti di situ, Dewan Penasihat Kobaret, BRM Kusumo Putro menyampaikan pesan yang menohok.
“Kami tidak mencari musuh. Yang kami bangun hanyalah persaudaraan. Karena itu seluruh keluarga besar PSHT harus menjaga keamanan, kenyamanan, dan kesantunan,” ucapny.
Kobaret juga menunjukkan bahwa ormas bisa hadir bukan hanya di panggung hiburan, tetapi juga di tengah problem nyata warga.
Beasiswa untuk pelajar kurang mampu dan yatim piatu dibagikan, serta rencana bakti sosial air bersih untuk daerah kekeringan segera digelar.
Apresiasi pun datang dari Pemkab Sukoharjo. Roni Wicaksono, Asisten III Sekda, yang mewakili Bupati Etik Suryani menyebut momen ini sebagai bukti nyata bahwa ormas bisa menjadi mitra pemerintah menjaga nasionalisme sekaligus harmoni.
Siang mulai menjelang, panggung rakyat bergemuruh dengan musik dangdut koplo dari Admaja Sragen dan penampilan artis PSHT, Rindi Safira. Di puncak euforia, ketertiban tetap terjaga.
Hari itu, Sukoharjo memperlihatkan wajah lain ormas silat: ribuan orang berkumpul tanpa satu pun keributan. Pesannya jelas dan tajam—persaudaraan bisa lebih lantang dari kericuhan. (kwl)
Editor : Tri wahyu Cahyono