RADARSOLO.COM – Suasana Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Minggu (7/9) sore benar-benar berbeda dari biasanya. Sekitar 4.000 tiket ludes terjual, menjadikan laga final Wonorejo Cup 3 ini bak pesta rakyat.
Tidak hanya sekadar turnamen sepak bola, ajang yang telah digelar tiga kali ini mengusung konsep unik yakni ketahanan pangan. Doorprize yang disiapkan panitia bukan hanya televisi atau kipas angin, melainkan juga satu ekor sapi dan dua ekor kambing.
Kepala Desa Wonorejo Yusuf Aziz Rahma mengatakan, konsep ketahanan pangan sengaja diangkat untuk mendukung program nasional. Melalui kegiatan olahraga, panitia ingin memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
”Jadi tadi ada satu sapi sebagai doorprize, dua kambing, dan juga alat-alat elektronik. Tapi konsep utamanya adalah ketahanan pangan. Karena ini memang program nasional yang kita dukung melalui olahraga, sehingga bisa membantu masyarakat kita agar terbantu terkait keamanan pangan. Intinya menambahi rezeki warga lewat konsep ketahanan pangan ini,” jelas Yusuf, Minggu (7/9) malam.
Pertandingan final mempertemukan Samba Persada dari Weru, Sukoharjo, melawan Zetel Meyer asal Karanganyar. Dari awal, atmosfernya hangat. Penonton bersorak setiap kali pemain mendekati gawang, teriakan dukungan bercampur riuh suara pedagang UMKM menjajakan dagangannya.
Meski kedua tim bermain menyerang, skor tetap bertahan 0-0 hingga peluit panjang berbunyi. Adu penalti pun digelar. Pada akhirnya, Samba Persada berhasil menang dengan skor 3-1.
”Final kali ini seperti liga champion Solo Raya. Karena mempertemukan wakil Sukoharjo melawan Karanganyar. Alhamdulillah, Samba Persada bisa jadi juara,” kata Yusuf.
Yang membuat Wonorejo Cup berbeda adalah hadiah-hadiah yang dipersembahkan untuk penonton. Begitu pengumuman doorprize sapi disebutkan, teriakan penonton menggema. Pemenang beruntung langsung dielu-elukan, bahkan sempat menjadi pusat perhatian karena sapi hadiah dipamerkan di tepi lapangan.
”Biasanya kan doorprize ya kipas angin atau sepeda. Kalau di Wonorejo Cup, hadiahnya sapi dan kambing. Ini sekaligus simbol bagaimana kita mengaitkan olahraga dengan ketahanan pangan,” ungkap Yusuf.
Turnamen ini juga mendapat dukungan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Rektor UMS Prof Harun bahkan menggelontorkan Rp 15 juta untuk hadiah juara pertama. Dia menegaskan, UMS ingin ikut berperan dalam memasyarakatkan olahraga sekaligus memberikan wadah positif bagi anak-anak muda.
”Olahraga ini bagi UMS penting sekali. Anak-anak muda yang gila bola dan punya bakat memang perlu diwadahi. Kami ingin sepak bola di desa tidak hanya jadi hiburan, tetapi juga bisa melahirkan atlet-atlet potensial. Di sisi lain, turnamen seperti ini mempererat kebersamaan warga dan memberikan hiburan yang sehat,” ujar Prof Harun.
Menurut panitia, penjualan tiket final hampir menembus 4.000 lembar. Jumlah ini menjadi catatan tersendiri karena menunjukkan betapa sepak bola masih menjadi magnet utama hiburan masyarakat desa. (kwl/adi)
Editor : fery ardi susanto