RADARSOLO.COM – Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo terus menggenjot produksi padi semi organik. Salah satu lokasinya di Dusun Tawing, Desa Sanggang, Kecamatan Bulu yang kini mencapai rata-rata produksi 8 ton per hektare (ha).
Angka tersebut dinilai tinggi, terlebih budidaya dilakukan dengan cara tradisional. Yakni menggunakan pengairan dari mata air pegunungan yang relatif bebas dari residu pestisida.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Bagas Windaryatno mengatakan pola tanam padi di Tawing masih sangat sederhana. Lahan dikelola secara manual melalui gotong royong petani tanpa bantuan alat mesin pertanian modern. Letaknya yang berada di area perbukitan dengan model terasiring membuat lahan ini terpisah dari irigasi teknis lain, sehingga air yang digunakan tetap bersih.
”Indikasi semi organik memang terlihat dari pola budi dayanya. Namun, untuk meyakinkan klaim itu kami akan membawa sampel gabah ke laboratorium. Dari sana akan diketahui sejauh mana kadar pestisida yang terkandung, sehingga bisa dipastikan apakah sudah memenuhi kriteria organik atau masih semi organik,” jelas Bagas, Minggu (21/9).
Dia menambahkan, peluang pasar beras organik saat ini terbuka lebar, terutama dari kalangan masyarakat perkotaan yang semakin sadar akan pentingnya pangan sehat dan ramah lingkungan. Jika hasil uji laboratorium menunjukkan kualitas yang baik, Tawing berpotensi menjadi kawasan produksi padi organik.
”Kalau kualitasnya terjamin, peluang pasarnya akan besar. Ini bukan hanya soal hasil panen, tapi juga citra Sukoharjo sebagai daerah yang bisa menghasilkan beras sehat,” tegasnya.
Menurut Bagas, padi organik memiliki keunggulan dibanding padi biasa, baik dari sisi kesehatan, rasa, maupun lingkungan. Selain bebas residu bahan kimia, beras organik dikenal lebih pulen, beraroma khas, dan tahan lama tanpa bahan pengawet. Dari sisi lingkungan, sistem ini menjaga kesuburan tanah dan mengurangi pencemaran air karena tidak bergantung pada pupuk maupun pestisida sintetis.
”Prinsipnya, padi organik ini mengembalikan keseimbangan alam. Tanah tetap subur, air tidak tercemar, dan petani pun tidak bergantung pada pupuk kimia yang harganya makin mahal. Jadi manfaatnya berlapis, bukan hanya bagi konsumen, tapi juga bagi petani dan ekosistem,” terang Bagas.
Pemerintah daerah juga akan mendorong penguatan kelembagaan petani agar bisa bersama-sama mengembangkan sistem budidaya organik. Selain pendampingan berupa pelatihan dan sertifikasi, penyediaan pupuk organik dan pengendalian hama hayati akan dipersiapkan jika hasil uji laboratorium menunjukkan potensi besar untuk beralih ke organik sepenuhnya.
”Kalau hasil uji nanti sesuai harapan, Dukuh Tawing bisa menjadi percontohan pengembangan padi organik di Sukoharjo. Kami akan dorong langkah-langkah pendukung mulai dari penyediaan pupuk organik, metode pengendalian hama hayati, hingga pemasaran,” ujarnya.
Dengan potensi tersebut, Bagas optimistis Dukuh Tawing tidak hanya dikenal sebagai sentra pertanian, tetapi juga bisa berkembang menjadi daya tarik agrowisata yang menonjolkan keunikan padi organik sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar. (kwl/adi)
Editor : fery ardi susanto