RADARSOLO.COM – Para petani di Desa/Kecamatan Polokarto coba menanam terong nasubi asal Jepang. Mengingat harga jualnya di tingkat petani cukup tinggi, yakni Rp 2.500 per kiligram (kg).
Kepastian nominal tersebut tertuang dalam kontrak kerja sama dengan sebuah perusahaan. Baik dalam kondisi panen bagus maupun kurang memuaskan.
Kepala Desa (Kades) Polokarto Suharno menjelaskan, kontrak tersebut memberikan rasa aman bagi petani. Selain itu, juga terdapat klausul denda Rp 50 juta apabila salah satu pihak mengingkari isi kontrak.
“Luas lahan sekitar 1 hektare atau 10.000 meter persegi. Jumlah bibit yang disediakan 12.500 batang, dengan usia tanam sampai panen sekira 45 hari. Penanaman insya Allah minggu ini,” kata Suharno, Rabu (24/9).
Keunggulan terong nasubi terletak pada jaminan harga yang stabil. Nantinya, terong jenis ini untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
“Dalam kontrak dijamin Rp 2.500 per kg. Kalau harga pasaran lokal kan tidak menentu. Kadang Rp 2.000, kadang Rp 1.500, kadang Rp 3.000,” imbuhnya.
Ciri khas terong nasubi asal Jepang ini agak berbeda dengan biasanya. Bentuknya lebih bulat menyerupai telur. Sementara warnanya tetap sama, yakni ungu tua hingga kehitaman.
Suharno berharap pola kerj asama seperti ini bisa menjadi solusi bagi para petani. Terutama dalam menghadapi fluktuasi harga di pasar lokal.
“Kalau ada jaminan harga, petani jadi lebih tenang. Lebih semangat dalam merawat tanaman sampai panen,” bebernya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto