RADARSOLO.COM – Dampak kekeringan akibat musim kemarau terus meluas di Kabupaten Sukoharjo. Hingga Kamis (26/9), 1.509 jiwa di enam desa dari dua kecamatan terdampak krisis air bersih. Dibuktikan dengan pengajuan bantuan air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo.
Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo menjelaskan, telah menyalurkan total 490.000 liter air bersih atau 98 tangki ke wilayah terdampak kekeringan sejak akhir Juli. Bantuan tersebar di Kecamatan Tawangsari dan Weru, yang terdampak kekeringan paling parah.
“Sejauh ini sudah ada 503 kepala keluarga (KK) atau 1.509 jiwa yang menerima bantuan air bersih. Dropping akan terus kami lakukan selama kemarau belum berakhir,” kata Ariyanto, Selasa (30/9).
Kekeringan di Tawangsari melanda Desa Kedungjambal. Sudah digelontor 37 tangki atau 185.000 liter air bersih. Sedangkan di Weru, dropping air bersih menyasar lima desa dengan total 61 tangki atau 305.000 liter. Mulai dari Desa Weru, Karangwuni, Alasombo, Karanganyar, dan Tawang.
Paling gres, BPBD menerima pengajuan dropping air bersih dari Desa Kunden, Kecamatan Bulu, kemarin. Artinya, ancaman kekeringan meluas hingga Bulu.
Pemerintah Desa (Pemdes) Kunden telah mengirim surat resmi ke bupati Sukoharjo per 30 September. Dalam surat tersebut, tercatat 230 KK atau 1.020 jiwa di empat dusun krisis air bersih.
Rinciannya, 30 KK atau 190 jiwa di Dusun Kepuh RT 03 RW 01, 80 KK atau 375 jiwa di Dusun Kepuh RT 01/02 RW 03, 45 KK atau 160 jiwa di Dusun Kepuh Pencil RT 03 RW 04, serta 75 KK atau 295 jiwa di Dusun Ngesong RT 01/02 RW 04.
Tambahan permintaan dari Desa Kunden, total 2.500 jiwa terdampak krisis air bersih di Kota makmur. Saat ini BPBD sudah melakukan asesmen untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Prioritas kami adalah memastikan kebutuhan dasar warga, terutama air bersih,” tegas Ariyanto. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto