RADARSOLO.COM – Kabupaten Sukoharjo kembali menegaskan dominasinya sebagai lumbung pangan regional dengan capaian luar biasa dalam menjaga ketahanan pangan sepanjang 2025. Atas konsistensi tersebut, Bupati Sukoharjo Etik Suryani diganjar penghargaan bergengsi “Top of The Year 2025” dari Jawa Pos–Radar Solo, kategori Annakshetra Mahardhika, atas komitmen memperkuat fondasi pangan sebagai pilar kesejahteraan masyarakat.
Bupati Etik menyebut penghargaan ini merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor — dari pemerintah daerah, TNI–Polri, Bulog, kelompok tani, hingga petani milenial — yang bahu-membahu menjaga kedaulatan pangan.
“Ini bukan semata penghargaan untuk pemerintah daerah, tetapi untuk semua pihak yang gotong royong menjaga kedaulatan pangan Sukoharjo. Kita tumbuh karena kerja nyata di lapangan,” tegas Etik.
Data Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo menunjukkan, sepanjang Oktober 2024 hingga Agustus 2025, luas tanam padi mencapai 50.527 hektare, dengan produksi 214.823 ton gabah. Angka itu menopang stok beras lokal dan memastikan cadangan pangan pemerintah tetap aman.
Capaian spektakuler juga terlihat dari realisasi serapan gabah oleh Bulog. Pada Maret 2025, Sukoharjo mencatat serapan 2.894 ton, tertinggi di Solo Raya. Dua bulan kemudian, realisasi meningkat drastis menjadi 8.198 ton, atau 234 persen dari target. Hingga akhir tahun, Sukoharjo konsisten menembus target serapan, memperkuat posisi sebagai penopang utama ketahanan pangan Jawa Tengah.
Etik menjelaskan, strategi pembelian gabah oleh Satgas Pangan di lapangan berpedoman pada harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kg. Tujuannya menjaga pendapatan petani tetap layak dan stabil.
“Kami pastikan tidak ada petani yang dirugikan saat panen raya. Pemerintah hadir di titik paling krusial, memastikan harga stabil, produksi terserap, dan kesejahteraan meningkat,” tandasnya.
Kunci kekuatan Sukoharjo terletak pada sinergi pentahelix. Kodim 0726/Sukoharjo menjadi garda terdepan pengawal serapan gabah dan logistik panen, Polres Sukoharjo menjamin keamanan distribusi, sementara Bulog Cabang Surakarta mencatat Sukoharjo sebagai daerah dengan realisasi serapan tertinggi di wilayah kerjanya.
Di sisi lain, kelompok tani dan petani milenial tampil sebagai inovator, mengadopsi pompa air tenaga surya, rice transplanter, hingga digitalisasi manajemen tanam.Pemerintah daerah juga memperkuat dukungan anggaran untuk pertanian.
“Total anggaran pertanian di APBD dan APBD-P 2025 mencapai Rp24 miliar, dan 86 persen di antaranya langsung untuk masyarakat,” jelas Etik.
Dalam program mekanisasi pertanian, pemkab menyalurkan total bantuan alsintan yang telah disalurkan pada tahun 2025 mencapai 84 unit berbagai jenis alat modern. Rinciannya meliputi 20 unit traktor roda dua, 5 unit traktor roda empat, 2 unit traktor crawler, 6 unit pompa air, 1 unit rice transplanter, 26 unit hand sprayer, 6 unit combine harvester besar, 3 unit cultivator, serta 2 unit alat pencacah pupuk organik (APPO).
Selain itu, dalam kesempatan penyerahan bantuan di Kantor Bupati Sukoharjo pada Kamis (6/11), Etik Suryani juga menyalurkan tambahan alsintan berupa 6 unit combine harvester besar, 4 unit traktor roda crawler, 4 unit traktor roda empat, 9 unit traktor roda dua, 15 unit pompa air, dan 15 unit hand sprayer.
Dalam satu dekade terakhir, lebih dari 900 unit alsintan telah diterima petani. Infrastruktur pendukung pun tumbuh pesat: 222 rehabilitasi jaringan irigasi, 194 jalan usaha tani, 118 embung dan dam parit, serta 51 kegiatan pompanisasi.
Inovasi energi terbarukan juga mulai dijalankan. Di beberapa desa seperti Jagan dan Kalisogo, petani kini memanfaatkan pompa air tenaga surya, yang memungkinkan lahan tadah hujan bisa panen dua hingga tiga kali setahun.
“Pemanfaatan energi bersih ini menjadikan pertanian Sukoharjo lebih tangguh menghadapi perubahan iklim,” ujar Etik.
Hasilnya terasa nyata: harga gabah tetap stabil di atas HPP, biaya tenaga kerja berkurang, dan produktivitas meningkat signifikan. Di Desa Dalangan, produktivitas bahkan menembus 91,65 kuintal per hektare.
Menurut Etik, capaian ini menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kemandirian pangan yang inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun ketahanan pangan nasional yang berdaulat.
“Kedaulatan pangan adalah kedaulatan rakyat. Kami ingin Sukoharjo terus menjadi inspirasi bagi daerah lain,” ujarnya. (kwl/bun)
Editor : Kabun Triyatno