Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Usai Produktif Dominasi Kasus Skizofrenia Di Sukoharjo, 1.815 ODGJ Dipihaki Layanan Kesehatan

Iwan Kawul • Jumat, 14 November 2025 | 01:04 WIB
MENIPIS: Petugas Puskesmas Sukoharjo Kota tengah mengecek stok obat. Di bulan Januari, jumlah pasien mengalami peningkatan dan stok obat mulai menipis.
MENIPIS: Petugas Puskesmas Sukoharjo Kota tengah mengecek stok obat. Di bulan Januari, jumlah pasien mengalami peningkatan dan stok obat mulai menipis.

RADARSOLO.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sukoharjo mencatat, 1.815 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat telah mendapatkan pelayanan kesehatan sepanjang 2024. Data tersebut berasal dari seluruh puskesmas di 12 kecamatan. Dari jumlah itu, penderita didominasi usia produktif (15-59 tahun).

Kepala Dinkes Sukoharjo Tri Tuti Rahayu menjelaskan, jumlah sasaran ODGJ berat di Kota Makmur mencapai 2.270 orang. Dari jumlah itu, 79,96 persen memperoleh pelayanan kesehatan di puskesmas terdekat.

“Artinya, masih ada sebagian kecil ODGJ berat yang belum tersentuh pelayanan kesehatan. Ini menjadi perhatian kami, agar pemerataan layanan lebih optimal,” kata Tri Tuti, Kamis (13/11).

Tuti menambahkan, kasus ODGJ berat didominasi penderita skizofrenia dengan usia produktif 15-59 tahun. Jumlahnya mencapai 1.538 ODGJ. Sedangkan kelompok usia lanjut di atas 60 tahun, jumlahnya 163 ODGJ. Sedangkan kasus psikotik akut relatif lebih sedikit, hanya 110 ODGJ.

Terkait sebaran data, Kecamatan Grogol mencatat jumlah terbanyak, yakni 303 ODGJ. Disusul Kecamatan Kartasura 277 ODGJ, dan Sukoharjo 247 ODGJ. Sedangkan angka terendah di Kecamatan Bulu dengan 93 ODGJ dan Gatak 135 ODGJ.

“Kami terus memperkuat pelayanan kesehatan jiwa di tingkat puskesmas, melalui deteksi dini, pendampingan keluarga, dan terapi berkelanjutan. Kami juga libatkan kader kesehatan di desa, agar pemantauan pasien lebih dekat. Serta cepat ditangani bila ada gejala kambuhan,” paparnya.

Saat ini, sejumlah puskesmas sudah menunjukkan capaian optimal. Seperti Puskesmas Mojolaban dan Tawangsari yang melebihi 100 persen, karena menangani ODGJ dari luar wilayah kerja.

“Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai terbuka terhadap pelayanan kesehatan jiwa. Mereka tidak takut lagi membawa anggota keluarganya berobat,” bebernya.

Di sisi lain, Tuti mengapresiasi dedikasi tenaga kesehatan (nakes) di lapangan. Seorang di antaranya Eny In Hartati dari Puskesmas Bulu, yang baru saja meraih penghargaan Tenaga Kesehatan Pengabdian Tanpa Batas.

Penghargaan diberikan atas kiprahnya dalam mendampingi ODGJ di Bulu secara konsisten dan inovatif. “Contoh nyata tenaga kesehatan yang bekerja dengan hati. Tidak hanya fokus pelayanan di puskesmas, tetapi juga turun langsung mendampingi pasien di lapangan. Tanpa memandang ada atau tidaknya dukungan anggaran,” beber Tuti.

Diketahui Eny merangkap sebagai Koordinator Mutu Puskesmas Bulu dan Koordinator Puskesmas Pembantu (Pustu) Karangase. Aksinya berdampak besar bagi masyarakat.

Di antaranya pendampingan dan pengawasan minum obat bagi ODGJ. Termasuk koordinasi penjemputan dan rujukan pasien, yang melibatkan Dinas Sosial dan RSUD Ir. Soekarno. Semuanya dilakukan spontan, bahkan di luar jadwal kerja atau anggaran.

Selain itu, Eny juga menggagas inovasi Mas Waloyo (Bersama Masyarakat Kawal ODGJ Biar Tidak Suloyo). Berupa program kunjungan tim interprofesi dan lintas sektor, untuk memastikan ODGJ di Kecamatan Bulu mendapatkan pelayanan menyeluruh dan rutin minum obat.

“Eny juga merintis Posyandu ILP (Posyandu Jiwa) di Desa Tiyaran, Bulu. Menjadi wadah khusus bagi pasien ODGJ dari 11 desa. Melalui inovasi Mas Waloyo dan Posyandu Jiwa, tahun ini 93 ODGJ di Kecamatan Bulu terlayani secara berkelanjutan,” beber Tuti. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#kasus odgj sukoharjo #layanan kesehatan odgj sukoharjo #Dinas Kesehatan Sukoharjo