Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kasus Baru HIV/AID Di Sukoharjo Turun, Tetap Fokus Deteksi Dini Dan Penanganan

Iwan Kawul • Sabtu, 15 November 2025 | 02:24 WIB
Ilustrasi HIV/AIDS.
Ilustrasi HIV/AIDS.

RADARSOLO.COM – Upaya penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Sukoharjo menunjukkan perkembangan positif. Temuan kasus baru HIV di 2024 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo Tri Tuti Rahayu menyampaikan, hingga akhir 2023 tercatat 102 kasus baru dengan rincian 69 kasus HIV dan 33 AIDS. Sementara pada 2024, angka tersebut turun menjadi 68 kasus baru, terdiri dari 45 HIV dan 23 AIDS.

Meski data mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, kewaspadaan dan upaya deteksi dini terus diperkuat. Tujuannya untuk mencegah penularan baru serta memastikan ODHA tetap mendapatkan layanan kesehatan yang optimal.

“Penurunan ini menunjukkan bahwa upaya edukasi, layanan testing, serta pendampingan yang selama ini dilakukan mulai menunjukkan hasil,” ujarnya.

Jumlah total kumulatif ODHA di Sukoharjo sejak awal penemuan kasus mencapai 992 orang, dengan angka kematian kumulatif hingga akhir 2023 sebanyak 170 orang. Sementara jumlah ODHA yang menjalani terapi ARV (antiretroviral) hingga 2024 tercatat 445 orang.

“Kami memastikan seluruh ODHA yang membutuhkan terapi ARV tetap mendapat layanan secara berkelanjutan,” terang Tri Tuti.

Dia menambahkan, upaya Ending AIDS 2030—yang menargetkan 95 persen ODHA ditemukan, 95 persen mendapat pengobatan, dan 95 persen mencapai kondisi virus tidak terdeteksi—terus dikejar melalui layanan skrining dan deteksi dini berbasis populasi berisiko.

Pada 2024, total 13.107 orang dari kelompok berisiko menjalani tes HIV, dengan tingkat capaian 98,1 persen dari target 13.366 orang. Populasi tersebut meliputi ibu hamil, pasien TB, IMS, waria, WPS, LSL, hingga pengguna napza suntik. Dari hasil tes tersebut, ditemukan 36 orang positif, atau 0,27 persen.

Kelompok ibu hamil masih menjadi sasaran terbesar dalam deteksi dini, dengan 9.946 yang menjalani tes dan 2 di antaranya terdeteksi positif. Sementara pada populasi kunci, tes pada LSL mencapai 1.575 orang dengan 13 positif, waria 51 dengan 1 positif, WPS 340 dengan 4 positif, serta pasien TB yang dites sebanyak 818 orang dan ditemukan 14 positif.

Tri Tuti menegaskan bahwa deteksi dini tetap menjadi ujung tombak pengendalian HIV/AIDS di daerah.

“Semakin banyak orang yang mengetahui statusnya sejak dini, semakin cepat pula intervensi dapat dilakukan. Ini penting untuk memutus mata rantai penularan,” jelasnya.

Dinas Kesehatan Sukoharjo juga melanjutkan pelaksanaan Mobile VCT yang menyasar kelompok berisiko di berbagai titik, termasuk tempat hiburan. Namun demikian, belum semua pengelola tempat hiburan membuka diri sebagai hotspot layanan.

“Kami terus memperkuat koordinasi dengan KPA Kabupaten dan melibatkan komunitas penjangkau untuk memastikan layanan deteksi dan pendampingan tetap berjalan optimal,” tambahnya.

Validasi data layanan HIV dilakukan menggunakan aplikasi SIHA versi terbaru, sehingga memastikan tidak ada duplikasi kasus. Monitoring dan evaluasi juga terus dilakukan, termasuk melalui SIMS untuk penjangkauan komunitas.

“Kami berharap dengan kolaborasi lintas sektor, target Ending AIDS 2030 dapat tercapai di Sukoharjo,” tutup Tri Tuti. (kwl/nik)

Editor : fery ardi susanto
#dinkes sukoharjo #kasus hiv aids sukoharjo #Dinas Kesehatan Sukoharjo #deteksi dini hiv aids sukoharjo