RADARSOLO.COM – Penanganan stunting di Kabupaten Sukoharjo menunjukkan hasil menggembirakan. Angka prevalensi stunting turun signifikan dari 24,3 persen menjadi 16,8 persen.
Atas capaian tersebut, pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan dana insentif sebesar Rp 6,6 miliar untuk mendukung percepatan penurunan stunting pada 2026.
Wakil Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo menegaskan, penurunan signifikan ini tidak terlepas dari kerja keras lintas sektoral.
“Kabupaten Sukoharjo mendapatkan apresiasi karena prevalensi stunting turun sangat signifikan. Dana insentif Rp 6,6 miliar ini menjadi tambahan energi untuk menggenjot upaya penurunan stunting pada 2026,” ungkap Eko saat ditemui di SMKN 2 Sukoharjo, belum lama ini.
Sebagai catatan, pada 2025 Pemkab Sukoharjo menjalankan berbagai program strategis yang terbukti efektif. Salah satunya adalah penyaluran bantuan pangan berupa beras dan telur kepada 1.000 anak yang masuk kategori risiko stunting. Program ini menyasar pemenuhan gizi dasar sebagai upaya intervensi langsung kepada keluarga penerima manfaat (KPM).
Selain itu, pemerintah juga melaksanakan penilaian kinerja aksi konvergensi, melalui kegiatan daring untuk memantau implementasi delapan aksi konvergensi yang melibatkan banyak stakeholder lintas sektor. Evaluasi tersebut menjadi dasar penguatan strategi penurunan stunting.
Di bidang teknologi, Sukoharjo mulai mengembangkan sistem digitalisasi penanganan stunting melalui website khusus. Digitalisasi ini bertujuan mempermudah pendataan, pelaporan, hingga pemantauan kasus stunting secara real time di seluruh kecamatan.
Upaya lainnya adalah penguatan Tim Pendamping Keluarga (TPK). TPK yang terdiri dari kader PKK, kader KB, dan bidan desa tersebar di 167 desa/kelurahan. Mereka melakukan sosialisasi, pendataan ibu hamil dan balita, serta memastikan pendampingan terstruktur di tingkat paling bawah.
Pemkab juga rutin menyelenggarakan Rembuk Stunting di tingkat desa, untuk mengevaluasi capaian tahun sebelumnya dan merumuskan usulan program baru. Di tingkat kecamatan, dilakukan mini lokakarya bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) untuk menyinkronkan strategi dan memastikan intervensi berjalan optimal.
“Tentu capaian-capaian itu ditopang oleh berbagai sektor. Mulai dari industri, perdagangan, jasa hingga UMKM,” jelasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto