RADARSOLO.COM - Di bawah komando Adi Prihananto selaku direktur BUMDes Sugeng Abadi Mulur (BUMDes Mulur), Desa Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, menggulirkan transformasi sosial-ekonomi melalui pengelolaan sampah yang menjadi sistem berkelanjutan.
Program ini tak sekadar mengangkat isu lingkungan, tapi juga menumbuhkan potensi ekonomi desa dengan dukungan model pentahelix—melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media—sebagai fondasi kolaborasi.
“Pengelolaan sampah bukan lagi tujuan tunggal untuk lingkungan bersih, melainkan mesti menjadi usaha yang bisa bertahan,” ungkap Adi.
Akademisi, BUMDes Mulur telah menyatakan komitmen pada pengembangan bersama sejumlah perguruan tinggi, seperti UMS dan Univet Sukoharjo. Dunia usaha yang melibatkan perusahaan seperti Yakult memberikan dukungan barang fisik.
Contohnya ratusan tempat sampah untuk mendukung bank sampah di Desa Mulur. Investor utama (PT Sekawan Bersih Barokah) dilibatkan sebagai mitra industri pengolahan sampah. Komunitas dan masyarakat diberdayakan dengan Sistem bank sampah unit di tiap lingkungan RT/RW menunjukkan bahwa warga aktif dilibatkan.
"Media berperan sebagai publikasi membantu menginformasikan keberhasilan Desa Mulur dan memberi kepercayaan ke pihak eksternal. Kolaborasi ini memungkinkan BUMDes Mulur memperkuat ekosistem usaha—dari pengumpulan sampai pemasaran—serta memperluas jaringan pemasok (bank sampah desa lain dan wilayah Solo Raya) untuk memenuhi kapasitas produksi," kata Adi.
Baca Juga: Bupati Sukoharjo Etik Suryani Buka Senam HUT PGRI ke-80: Guru Harus Jadi Inspirator
Adi menjelaskan langkah strategis BUMDes Mulur untuk menggerakkan partisipasi warga dilakukan lewat edukasi rutin di lingkungan, hadiah atau insentif untuk bank sampah terbaik, dan model partisipasi yang melibatkan ibu-ibu PKK, karang taruna, serta pelajar.
BUMDes juga memfasilitasi unit usaha bagi warga — misalnya pengumpulan plastik atau organik yang kemudian menjadi komoditas — sehingga warga melihat bahwa sampah bisa menjadi penghasilan. Dengan demikian, kebersihan dan ekonomi berjalan beriringan.
Baca Juga: Ahli UGM: Perjanjian Nominee yang Tidak Melibatkan Unsur Asing Tidak Dilarang Undang-Undang
Melihat sukses awal, BUMDes Mulur memiliki rencana strategis untuk memperluas dampak ekonomi hijau. Memperbesar kapasitas produksi pabrik pengolahan plastik, memperluas kerangka pengumpulan sampah ke desa-desa penyangga, dan mengembangkan produk turunan hasil olahan seperti biji plastik ekspor.
Selain itu, BUMDes akan mengembangkan unit usaha organik (kompos, bahan bakar alternatif), memperkuat digitalisasi pengelolaan bank sampah, dan memperluas kemitraan dengan dunia usaha serta akademisi agar inovasi dan skala bisnis bisa meningkat.
Keberhasilan BUMDes Mulur dalam pengelolaan sampah menjadi contoh bagaimana masalah lingkungan bisa dijadikan peluang ekonomi melalui sinergi pentahelix. Bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi menciptakan ekosistem usaha yang mandiri dan berkelanjutan.
“Ketika warga, pemerintah, perusahaan, kampus, dan media bergerak bersama, maka sampah bukan lagi beban, tapi menjadi modal pembangunan,” ujarnya. (kwl/bun)