Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

TOP OF THE YEAR 2025: Inovasi Ketahanan Pangan melalui Sumur Dalam, Kepala Desa Karangwuni Hartono Raih Penghargaan Kshema Dhanya Pratishtha

Iwan Kawul • Jumat, 21 November 2025 | 01:53 WIB
Kades Karangwuni Hartono menerima penghargaan Top of The Year 2025 dari Direktur Jawa Pos Radar Solo Resita Rika Aryani. (Tri Wahyu Cahyono/Radar Solo)
Kades Karangwuni Hartono menerima penghargaan Top of The Year 2025 dari Direktur Jawa Pos Radar Solo Resita Rika Aryani. (Tri Wahyu Cahyono/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Komitmen dan kerja keras Kepala Desa Karangwuni, Kecamatan Polokarto Hartono, dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan kemarau panjang berbuah penghargaan bergengsi.

Hartono dinobatkan sebagai penerima Kshema Dhanya Pratishtha, salah satu kategori Top of The Year 2025 Jawa Pos Radar Solo. Atas kontribusinya dalam pengelolaan sumur dalam untuk kemakmuran hasil pertanian.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya nyata Pemerintah Desa Karangwuni yang berhasil menjaga produktivitas pertanian di saat banyak wilayah lain mengalami gagal panen akibat kekeringan.

Di bawah kepemimpinan Hartono, Karangwuni mampu membangun sistem irigasi berbasis sumur dalam yang menjadi tumpuan utama bagi para petani untuk tetap menanam sepanjang tahun.

Desa Karangwuni, yang berada di Kecamatan Polokarto, dikenal memiliki areal pertanian cukup luas. Namun selama ini, petani setempat kerap mengalami kendala saat musim kemarau karena pasokan air dari saluran irigasi induk Dam Colo Timur menurun, bahkan sering dikeringkan untuk perawatan.

Menjawab tantangan itu, Hartono bersama Pemerintah Desa menggagas pembangunan sumur dalam sebagai solusi jangka panjang. Hingga kini, telah terbangun 17 unit sumur dalam dengan kedalaman mencapai 100 meter. Setiap sumur mampu mengairi sekitar 5 hektare lahan, sehingga total cakupan mencapai 80 hektare.

“Program ini kami jalankan bertahap. Pada 2020 dibangun delapan titik, 2022 bertambah delapan titik lagi, dan 2025 satu titik baru kembali kami realisasikan,” terang Hartono.

Dengan biaya pembangunan sekitar Rp15 juta per titik, termasuk pompa dan instalasi listrik, proyek ini sepenuhnya dibiayai melalui Dana Desa dan bantuan dari pemerintah. Sistem irigasi menggunakan pompa listrik ini dinilai lebih hemat dan efisien dibandingkan pompa diesel, sehingga bisa digunakan secara berkelanjutan.

Sebelum ada sumur dalam, petani Karangwuni hanya mampu panen dua kali setahun karena terbatasnya pasokan air. Kini, berkat tersedianya air irigasi sepanjang tahun, mereka bisa melakukan tiga kali panen.

“Dulu kalau musim kemarau, Oktober sampai November Saluran Irigasi Coli Timur dikeringkan, banyak sawah yang kering dan tidak bisa ditanami. Sekarang alhamdulillah, meski musim kering, tanaman tetap tumbuh subur. Ini sangat membantu ekonomi warga,” katanya.

Sumur dalam dikelola oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Karangwuni. Sistem pengelolaan sumur dilakukan oleh P3A melalui mekanisme iuran air sebesar Rp 20 ribu per jam untuk biaya operasional dan pemeliharaan. Dengan cara ini, keberlanjutan sumber daya air dapat dijaga tanpa membebani petani kecil.

Meski capaian 17 unit sumur dalam telah memberikan dampak besar, Hartono menyadari bahwa kebutuhan air masih lebih luas. Dari total sekitar 119 hektare lahan pertanian di Karangwuni, baru sekitar 80 hektare yang sudah terlayani air secara optimal.

“Masih dibutuhkan tambahan sekitar 4–5 sumur lagi agar semua lahan bisa mendapatkan pasokan air yang merata,” ujarnya.

Pemerintah desa pun berencana menggandeng berbagai pihak dan memanfaatkan program bantuan dari pemerintah kabupaten maupun provinsi agar perluasan sumur dapat segera terealisasi.

Penghargaan ini, menjadi simbol keberhasilan Desa Karangwuni dalam membangun kemandirian air dan pangan.

“Ini bukan sekadar penghargaan bagi saya pribadi, tapi untuk seluruh warga Karangwuni. Keberhasilan ini lahir dari semangat gotong royong petani dan dukungan masyarakat yang luar biasa,” tegas Hartono.

Ia menambahkan, dengan semangat kebersamaan, Desa Karangwuni akan terus memperkuat ketahanan pangan melalui pengelolaan air tanah yang bijak dan berkelanjutan.

Keberhasilan Desa Karangwuni menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Sukoharjo dalam menghadapi ancaman kekeringan dengan solusi inovatif berbasis potensi lokal. (kwl/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Sumur Dalam #Jawa Pos Radar Solo #Top Of The Year 2025