RADARSOLO.COM- Pengukuran Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) Kabupaten Sukoharjo memasuki tahap akhir setelah Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) menyelesaikan rangkaian kegiatan di tujuh kecamatan.
Penutupan berlangsung di RT 1 Dukuh Jumetro, Desa Jangglengan, Kecamatan Nguter, Minggu (23/11/2025).
Kepala Disporapar Sukoharjo Setyo Aji Nugroho menjelaskan, IPO memiliki sembilan dimensi pengukuran, salah satunya adalah kebugaran masyarakat.
Dari total 12 kecamatan di Sukoharjo, pihaknya mengambil sampel tujuh kecamatan untuk tahun pertama pelaksanaan survei ini.
“Indeks pembangunan olahraga itu ada sembilan dimensi yang kita ukur. Salah satunya kebugaran masyarakat," jelas Setyo ditemui di lokasi kegiatan.
"Dari 12 kecamatan, kita ambil sampling tujuh kecamatan. Masing-masing satu desa, satu RT. Hari ini adalah rangkaian terakhir di Desa Jangglengan, RT 1 Jumetro,” imbuhnya.
Setyo menuturkan, sebelum melakukan tes kebugaran, tim lebih dulu membagikan kuesioner kepada warga sebagai bagian dari pengumpulan data primer.
Selanjutnya, data primer dan sekunder akan dianalisis oleh tenaga ahli bekerja sama dengan akademisi Prof. Agus Kristianto dari Universitas Sebelas Maret (UNS).
“Nanti hasil data-data baik primer maupun sekunder akan dihitung oleh tenaga ahli kami. Harapannya semua berjalan lancar sehingga kita bisa mengetahui seberapa jauh indeks pembangunan olahraga di Kabupaten Sukoharjo,” urainya.
Menurut Setyo Aji, skor dari sembilan dimensi yang diukur akan menjadi dasar evaluasi bagi pemerintah daerah untuk perbaikan kebijakan dan program olahraga ke depan.
Dimensi dengan nilai terendah akan menjadi fokus peningkatan agar pembangunan olahraga semakin optimal setiap tahun.
Baca Juga: Lulusan SMA Bersiap! Kemenkeu Isyaratkan Rekrutmen CPNS 2026 dalam Jumlah Besar
“Dari sembilan dimensi itu, skor yang paling kurang akan menjadi evaluasi bagi kita. Tujuannya agar indeks pembangunan olahraga terus berkembang lebih baik dan berdampak pada tingkat kebugaran masyarakat," terang Setyo.
"Kebugaran ini nantinya juga memengaruhi tingkat kesehatan, indeks pembangunan manusia, hingga angka harapan hidup di Sukoharjo,” imbuh dia.
Tahun 2025 menjadi tahun pertama pengukuran IPO dilakukan di Sukoharjo.
Setyo berharap kegiatan ini berkelanjutan sebagai basis data pembangunan olahraga di masa depan.
“Karena data itu memang mahal, tetapi jauh lebih mahal membangun tanpa data,” ucapnya.
Melalui penyusunan data IPO yang valid, Disporapar menargetkan arah pembangunan olahraga di Sukoharjo dapat dilakukan lebih terukur, tepat sasaran, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. (kwl)
Editor : Tri wahyu Cahyono