SUKOHARJO, Radar Solo – Populasi burung hantu sebagai predator alami hama tikus meningkat signifikan di Sukoharjo. Lonjakan populasi ini jadi angin segar, karena serangan tikus mengganggu capaian swasembada pangan.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispertanikan) Sukoharjo Bagas Windaryatno menjelaskan, burung hantu kini kian mudah dijumpai, terutama di areal persawahan. Peningkatan populasi ini tak lepas dari upaya petani dan pemerintah daerah, dalam memperluas habitat melalui rumah burung hantu (rubuhan) dan penangkaran masal.
“Dalam beberapa tahun terakhir, petani gencar memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami untuk menekan serangan hama tikus. Kini populasinya meningkat signifikan di semua wilayah di Sukoharjo,” jelas Bagas, Senin (24/11).
Bagas menambahkan, rubuhan ditempatkan di areal persawahan yang tersebar hingga pelosok desa. Hampir setiap areal persawahan di Kota Makmur memiliki rubuha aktif, yang dihuni predator malam tersebut.
“Sekarang burung hantu mudah dijumpai di persawahan. Ini sangat membantu petani,” imbuhnya.
Populasi burung hantu bisa dijumpai di area persawahan Kampung Kelurahan, Kelurahan/Kecamatan Sukoharjo. Petani di sana aktif menangkar anakan burung hantu. Setelah tumbuh besar, burung dilepasliarkan untuk memperkuat populasi alam.
Bagas menegaskan, dispertanikan akan terus memberi pendampingan penuh. Mulai dari pelatihan teknik perawatan burung hantu, penyediaan fasilitas penangkaran, hingga pembuatan rubuhan.
“Burung hantu kami dekatkan dengan petani. Rubuhan dibuat di tengah persawahan, agar memudahkan burung hantu memangsa tikus. Jika ada rubuha yang rusak, segera lapor untuk diperbaiki,” ujar Bagas.
Sementara itu, Bagas berharap seluruh wilayah di Sukoharjo berkomitmen menjaga kelestarian burung hantu. Karena keberhasilan petani memanfaatkan burung hantu, menjadi bagian dari penerapan pertanian ramah lingkungan.
“Kami mengajak semua pihak, baik petani, masyarakat, maupun TNI/Polri untuk bersama-sama melindungi burung hantu. Ini bukan hanya soal ekosistem, tetapi tentang masa depan pangan,” harapnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto