RADARSOLO.COM – Polres Sukoharjo menyoroti meningkatnya potensi kerawanan gangguan kamtibmas menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Jalan Solo-Wonogiri dan Solo-Wonosari (Klaten) diprediksi akan mengalami lonjakan arus lalu lintas.
Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo menjelaskan, Operasi Lilin Candi 2025 merupakan agenda tahunan dengan dinamika tinggi. Sehingga membutuhkan koordinasi matang antarinstansi.
“Periode Nataru selalu diikuti peningkatan mobilitas masyarakat, aktivitas di pusat keramaian, serta kegiatan ibadah yang memerlukan pengamanan ekstra. Karena itu, titik kerawanan harus dipetakan secara detail agar operasi berjalan efektif, tepat sasaran, dan humanis,” jelas Anggaito.
Polres Sukoharjo sudah mengidentifikasi sejumlah potensi kerawanan utama. Pertama, lonjakan arus masyarakat di jalur utama dan alternatif yang memicu kemacetan, serta risiko kecelakaan lalu lintas.
Kedua, kerawanan di tempat ibadah, khususnya gereja yang menyelenggarakan ibadah malam Natal. Termasuk ancaman sabotase dan gangguan intoleransi.
Ketiga, padatnya pusat keramaian, mal, pasar, objek wisata, terminal hingga SPBU, yang meningkatkan risiko kriminalitas. Di antaranya curat, curas, curanmor, pencopetan, dan kejahatan jalanan lainnya.
Selain itu, kerawanan bencana alam seperti banjir, pohon tumbang, hingga cuaca ekstrem juga menjadi perhatian. Karena bisa menghambat aktivitas masyarakat dan mengganggu mobilitas. Polres juga menyoroti potensi penyebaran informasi hoaks yang dapat memicu keresahan publik jika tidak ditangani dengan baik.
Dengan pemetaan kerawanan tersebut, Anggaito menekankan pentingnya pola operasi yang adaptif dan responsif. Pengamanan gereja dan lokasi perayaan akan dilakukan melalui sterilisasi bersama TNI, Satpol PP, dan instansi lain, disertai penjagaan terbuka maupun tertutup selama rangkaian ibadah.
Kasatlantas Polres Sukoharjo AKP Doohan Octa menambahkan, arus lalu lintas diprediksi meningkat signifikan di beberapa titik krusial. Seperti jalur Solo–Wonogiri, Solo–Wonosari, Bundaran Kartasura, serta jalur pedesaan.
Personel akan diperkuat di lokasi rawan macet maupun rawan kecelakaan, melalui rekayasa lalu lintas situasional dan patroli mobilitas.
“Kerumunan akan terkonsentrasi di pusat belanja, pasar, alun-alun, dan objek wisata. Karena itu, manajemen lalu lintas dan pengawasan keamanan harus digelar ketat,” jelasnya.
Ia menambahkan, potensi kerawanan intoleransi dan penyebaran hoaks juga masuk dalam pengamanan. Karena menjadi ancaman serius yang perlu diantisipasi sejak dini.
Mendukung pengamanan, Polres Sukoharjo akan mendirikan Pos Pengamanan dan Pos Pelayanan di titik strategis, dengan personel gabungan dari TNI, Dishub, Satpol PP, Dinkes, PMI, hingga relawan.
Command Center akan diaktifkan penuh selama 24 jam sebagai pusat koordinasi. Setiap kejadian menonjol akan ditangani dengan pola respons cepat oleh tim gabungan. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto