RADARSOLO.COM – Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyebut ekspor furniture rotan dari Desa Trangsan, Kecamatan Gatak ke Spanyol jadi bukti nyata keberhasilan konsep factory sharing. Hal tersebut disampaikan Maman saat meninjau langsung proses ekspor rotan di Trangsan, Kamis (18/12).
Maman menjelaskan, ekspor ini berawal dari Rumah Produksi Bersama (RPB) yang merupakan program kolaborasi antara Kementerian UMKM dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo. Menurutnya, program ini tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan penuh dari pemerintah daerah.
“Rumah Produksi Bersama ini kalau hanya diinisiasi Kementerian UMKM, tanpa didukung pemkab, tidak akan mungkin tercapai dan berhasil. Alhamdulillah Pemkab Sukoharjo memberikan dukungan luar biasa besar. Sehingga operasionalisasi Rumah Produksi Bersama khusus pembuatan rotan ini bisa berjalan,” kata Maman.
Maman menambahkan, pengiriman kali ini merupakan shipping kedua ke luar negeri dengan negara tujuan Spanyol. Nilai ekspor tersebut mencapai USD 13 ribu. Maman berharap pengiriman dilakukan rutin dan berkelanjutan.
“Peresmian RPB sekaligus simbolisasi pengiriman rotan ke Spanyol ini kami harapkan menjadi motivasi. RPB adalah program yang benar-benar memberdayakan UMKM lokal, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Terkait ekspor, Maman menegaskan pangsa pasar Eropa sangat terbuka. Apalagi bea masuk produk ke Eropa 0 persen. Sehingga pelaku UMKM tidak perlu waswas akan isu kenaikan biaya masuk seperti di Amerika Serikat.
“Jadi, tidak ada isu terkait naiknya biaya masuk di Amerika. Artinya, market di negara lain masih banyak. Dan kita fokus ke negara-negara yang memberikan keuntungan dan manfaat bagi pengusaha UMKM,” jelasnya.
Pada kesempatan ini, Maman memberikan penekanan khusus kepada pengelola dan pelaku UMKM. Terutama yang tergabung dalam koperasi manunggal selaku penyelenggara ekspor. Ada dua hal utama yang harus dijaga ketika UMKM sudah masuk pasar ekspor, yakni kepastian pasokan dan kualitas produk.
“Kalau sudah berurusan dengan ekspor, yang dilihat itu pasokan atau delivery time dan kesinambungan pasokan. Lalu yang kedua adalah kualitas. Maka dari itu, kami tekankan betul-betul, tolong dijaga kualitasnya,” tegasnya.
Sementara itu, kunjungan Maman didampingi Wakil Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo. Menurut Eko, skema RPB atau factory sharing merupakan solusi atas berbagai kendala klasik yang selama ini dihadapi pelaku industri dan UMKM. Kendala tersebut antara lain keterbatasan bahan baku, mesin produksi, hingga akses jejaring pasar.
“Skema rumah produksi bersama ini sangat bagus. Dengan adanya factory sharing, kami berharap kendala-kendala tersebut bisa tereliminasi,” beber Eko. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto