Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kupas Tuntas Nyeri Perut pada Anak, RSUD Ir Soekarno Soroti Kasus Diare hingga Stunting

Iwan Kawul • Jumat, 19 Desember 2025 | 18:03 WIB

 

RSUD Ir Soekarno Sukoharjo mengungkap nyeri perut, diare, hingga stunting masih mendominasi kasus kesehatan anak.
RSUD Ir Soekarno Sukoharjo mengungkap nyeri perut, diare, hingga stunting masih mendominasi kasus kesehatan anak.

RADARSOLO.COM – RSUD Ir Soekarno Sukoharjo menggelar talk show kesehatan dengan tema "Kupas Tuntas Nyeri Perut pada Anak, dari Gejala Ringan Hingga Tanda Bahaya" di lingkungan rumah sakit setempat, Jumat (19/12).

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2025.

Direktur RSUD Ir Soekarno Sukoharjo, dr. Yunia Wahdiyati, mengungkapkan bahwa keluhan nyeri perut masih menjadi salah satu alasan terbanyak anak-anak datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun menjalani rawat inap.

Selain nyeri perut, keluhan lain yang kerap ditemukan adalah diare, termasuk diare disertai darah atau buang air besar bercampur darah.

"Banyak anak yang datang ke IGD maupun dirawat di sini dengan keluhan nyeri perut. Selain itu juga diare, diare dengan darah, atau BAB biasa tapi ada darahnya. Itu yang paling sering kami tangani di RSUD Ir Soekarno," ujar dr. Yunia.

Menurutnya, selain gangguan saluran cerna, saat ini perhatian rumah sakit juga tertuju pada kasus stunting dan gangguan gizi pada anak.

RSUD Ir Soekarno ditunjuk oleh Dinas Kesehatan sebagai salah satu rumah sakit rujukan untuk program penanganan stunting, sehingga cukup banyak kasus yang dirujuk untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

RSUD Ir Soekarno Sukoharjo menggelar talk show kesehatan dengan tema "Kupas Tuntas Nyeri Perut pada Anak, dari Gejala Ringan Hingga Tanda Bahaya"
RSUD Ir Soekarno Sukoharjo menggelar talk show kesehatan dengan tema "Kupas Tuntas Nyeri Perut pada Anak, dari Gejala Ringan Hingga Tanda Bahaya"

"Kasus stunting atau gangguan gizi ini banyak dirujuk ke kami. Bisa berasal dari puskesmas, fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, rumah sakit jejaring, bahkan ada yang ditemukan oleh kelompok peduli kesehatan anak seperti posyandu atau sanggar inklusi," jelasnya.

Ia menyebutkan, setiap bulan RSUD Ir Soekarno menangani bayi dengan berat badan lahir rendah atau sangat rendah yang berpotensi mengalami stunting, serta anak-anak yang sudah terdiagnosis mengalami gangguan gizi.

"Untuk kasus stunting yang benar-benar terdiagnosis, jumlahnya relatif stabil," ungkap dr. Yunia.

Secara keseluruhan, layanan poli anak di RSUD Ir Soekarno cukup padat. Dalam satu hari, jumlah kunjungan anak ke poli anak bisa mencapai 30 hingga 40 kasus.

Penyakit infeksi masih mendominasi, yang kerap berujung pada diare dan gangguan saluran cerna lainnya.

"Anak-anak memang rawan terhadap infeksi. Selain itu, gangguan saluran cerna juga cukup banyak. Sekarang ini, karena kami sudah memiliki layanan bedah anak, kasus-kasus yang memerlukan tindakan bedah juga mulai kami tangani," katanya.

Ia mencontohkan, belum lama ini RSUD Ir Soekarno menerima rujukan dari rumah sakit di Slawi untuk penanganan kasus atresiani, yakni kondisi bayi yang terlahir tanpa lubang anus.

Kasus tersebut berhasil ditangani melalui tindakan operasi bedah anak di RSUD Ir Soekarno.

Talk show kesehatan ini, lanjut dr. Yunia, merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional yang sejatinya diperingati setiap 12 November.

Namun karena padatnya agenda kegiatan di tingkat pemerintah daerah, rangkaian peringatan baru dapat dilaksanakan pada Desember ini.

"Selain talk show, hari ini juga ada pemberian penghargaan bagi rekan-rekan kami yang mengikuti seleksi tenaga kesehatan teladan, tenaga non-kesehatan teladan, serta inovasi dari instalasi yang ada di internal rumah sakit," pungkasnya.(kwl)

Editor : Nur Pramudito
#kasus diare #stunting #rsud ir soekarno #sukoharjo