Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Transformasi Makan Bergizi Gratis (MBG) Menuju Gizi Berkarsa, Ajak Sekolah Biasakan Siswa Untuk Mandiri

Iwan Kawul • Jumat, 26 Desember 2025 | 23:14 WIB
Pengoahan menu makan bergizi gratis (MBG) di salah satu satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Sukoharjo.
Pengoahan menu makan bergizi gratis (MBG) di salah satu satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Sukoharjo.

RADARSOLO.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini berjalan di satuan pendidikan, dinilai memiliki potensi jauh lebih besar dari sekadar pemenuhan kebutuhan pangan siswa. Di Kabupaten Sukoharjo, MBG mulai dipandang sebagai pintu masuk strategis untuk membangun karakter, kesadaran lingkungan, hingga ketahanan pangan berkelanjutan melalui konsep transformasi menjadi Gizi Berkarsa.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo Havid Danang Purnomo Widodo menegaskan, paradigma MBG perlu diperluas agar sekolah tidak hanya menjadi titik distribusi makanan, tetapi juga ruang pembelajaran nilai dan kebiasaan hidup sehat.

“MBG adalah program strategis nasional yang sangat penting. Tetapi akan jauh lebih bermakna jika diintegrasikan dengan proses pendidikan karakter. Anak-anak tidak hanya makan, tetapi belajar tentang tanggung jawab, kebersihan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Havid Danang.

Menurutnya, konsep Gizi Berkarsa mendorong sekolah berperan aktif sebagai subjek pedagogis. Ritual makan di sekolah dapat diolah menjadi proses belajar sosial, mulai dari kesadaran menghabiskan makanan, mencuci alat makan sendiri, memilah sisa makanan, hingga mengolah limbah organik menjadi kompos atau pupuk.

“Di situlah nilai pendidikan bekerja. Anak-anak dilatih mandiri, disiplin, dan memahami bahwa makanan memiliki siklus panjang dari produksi hingga konsumsi. Ini selaras dengan pembentukan karakter dan Profil Pelajar Pancasila,” jelasnya.

Havid Danang menilai, pendekatan ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pembelajaran kontekstual dan berkelanjutan. Integrasi MBG dengan kurikulum, khususnya melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dinilai mampu menjembatani teori di kelas dengan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Lebih jauh, ia menyebut transformasi MBG juga berpotensi menggerakkan ekosistem lokal. Keterlibatan UMKM, petani, serta pengembangan kebun sekolah dapat menumbuhkan literasi pangan sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan di sekitar satuan pendidikan.

“Sekolah bisa menjadi pusat pembelajaran sekaligus contoh nyata ketahanan pangan skala kecil. Anak-anak belajar menanam, merawat, hingga memahami pentingnya kedaulatan pangan bangsa,” imbuhnya.

Pemkab Sukoharjo, lanjut Havid, terbuka terhadap inovasi dan inisiatif yang memperkuat kualitas pelaksanaan MBG di daerah. Implementasi bertahap, mulai dari pembiasaan hingga institusionalisasi melalui regulasi daerah, dinilai penting agar program berjalan konsisten dan berkelanjutan.

“Harapannya, MBG tidak berhenti pada pemenuhan gizi, tetapi benar-benar melahirkan generasi yang sehat secara fisik, kuat secara karakter, dan memiliki kesadaran sosial serta ekologis. Inilah bekal penting menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Dalam waktu dekat, akan ada tiga sekolah yang akan jadi pilot project program transformasi di Kecamatan Polokarto. Mulai dari SDN Godog, SDN Pranan 01, dan SMPN 03 Polokarto. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#tiga sekolah pilot project gizi berkarsa mbg sukoharjo #disdikbud sukoharjo #Gizi Berkarsa MBG sukoharjo