RADARSOLO.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini dikenal sebagai upaya pemenuhan asupan gizi peserta didik, kini mulai diarahkan ke konsep yang lebih luas dan berkelanjutan.
Di Kabupaten Sukoharjo, MBG tengah ditransformasikan menjadi Gizi Berkarsa, sebuah pendekatan pendidikan yang menggabungkan gizi, karakter, dan kesadaran lingkungan.
Gagasan ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo, Havid Danang Purnomo Widodo.
Dia menilai, MBG memiliki potensi strategis jika tidak hanya diposisikan sebagai program distribusi makanan di sekolah.
Menurutnya, melalui konsep Gizi Berkarsa, sekolah diharapkan menjadi ruang pembelajaran nilai-nilai kehidupan, bukan sekadar tempat anak-anak menerima makanan bergizi.
“MBG adalah program nasional yang sangat penting. Namun dampaknya akan jauh lebih besar jika dikaitkan dengan pendidikan karakter. Anak-anak tidak hanya makan, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, kebersihan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Havid Danang.
Ritual Makan Jadi Proses Pendidikan
Dalam konsep Gizi Berkarsa, aktivitas makan di sekolah dirancang sebagai bagian dari proses pedagogis.
Siswa tidak hanya duduk dan mengonsumsi makanan, tetapi juga dilatih membangun kebiasaan hidup sehat dan bertanggung jawab.
Mulai dari membiasakan menghabiskan makanan, mencuci peralatan makan sendiri, memilah sisa makanan, hingga mengolah limbah organik menjadi kompos atau pupuk, semuanya dijadikan sarana pembelajaran sosial dan lingkungan.
“Di sinilah pendidikan karakter berjalan. Anak-anak belajar mandiri, disiplin, dan memahami bahwa makanan memiliki proses panjang dari produksi hingga dikonsumsi. Nilai-nilai ini sejalan dengan pembentukan Profil Pelajar Pancasila,” jelasnya.
Terintegrasi dengan Kurikulum dan P5
Transformasi MBG ke Gizi Berkarsa juga dinilai sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pembelajaran kontekstual dan berkelanjutan.
Havid menyebut, program ini dapat diintegrasikan langsung dengan kurikulum, khususnya melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Dengan demikian, apa yang dipelajari siswa di ruang kelas dapat terhubung langsung dengan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Lokal
Tak hanya berdampak pada siswa, pendekatan Gizi Berkarsa juga diyakini mampu menggerakkan ekosistem lokal.
Keterlibatan petani, UMKM, hingga pengembangan kebun sekolah menjadi bagian penting dalam membangun literasi pangan sejak dini.
“Sekolah bisa menjadi pusat pembelajaran sekaligus contoh ketahanan pangan skala kecil. Anak-anak belajar menanam, merawat, dan memahami pentingnya kedaulatan pangan,” ungkap Havid.
Ia menambahkan, Pemkab Sukoharjo membuka ruang bagi berbagai inovasi untuk memperkuat kualitas pelaksanaan MBG agar lebih konsisten dan berkelanjutan.
Implementasi akan dilakukan secara bertahap, mulai dari pembiasaan hingga penguatan melalui regulasi daerah.
Tiga Sekolah Jadi Pilot Project
Sebagai langkah awal, Pemkab Sukoharjo menetapkan tiga sekolah di Kecamatan Polokarto sebagai proyek percontohan transformasi MBG menjadi Gizi Berkarsa.
Ketiganya adalah SDN Godog, SDN Pranan 01, dan SMPN 03 Polokarto.
Diharapkan, model ini nantinya dapat direplikasi ke sekolah lain di Sukoharjo.
“Target akhirnya, MBG tidak hanya memenuhi gizi anak, tetapi juga melahirkan generasi yang sehat secara fisik, kuat secara karakter, serta memiliki kesadaran sosial dan ekologis. Inilah fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Havid. (kwl/ria)
Editor : Syahaamah Fikria