RADARSOLO.COM – Program Gizi BerKarsa atau Gizi Berbasis Karakter dan Ketahanan Pangan Sekolah resmi memasuki tahap uji coba di Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (10/1).
Program ini menjadi pengembangan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan pendekatan transformatif, yakni menjadikan sekolah dan siswa sebagai subjek aktif dalam pembelajaran karakter.
Uji coba yang berjalan dengan baik ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Sukoharjo. Seluruh jajaran, mulai dari kepala bidang, pengawas, kepala sekolah, guru, hingga peserta didik terlibat aktif, sehingga Gizi BerKarsa dinilai mampu menjadi pengungkit perubahan budaya positif di lingkungan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukoharjo, Havid Danang Purnomo Widodo, menyampaikan bahwa Gizi BerKarsa merupakan inovasi strategis yang menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni pemenuhan gizi dan penguatan pendidikan karakter.
Menurutnya, dukungan yang diberikan tidak berhenti pada kebijakan semata, tetapi juga pada penguatan peran kepala sekolah, guru, dan pengawas agar program ini benar-benar hidup dalam keseharian pembelajaran.
“Kami melihat Program Gizi BerKarsa sebagai inovasi yang sangat strategis karena tidak hanya mendukung pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga membangun karakter, tanggung jawab, dan budaya positif di sekolah. Program ini kami dorong agar menjadi praktik pendidikan sehari-hari,” ujarnya.
Lebih lanjut, Havid Danang menjelaskan bahwa konsep Gizi BerKarsa mendorong sekolah berperan sebagai subjek pedagogis. Ritual makan di sekolah tidak lagi dipandang sebagai aktivitas rutin semata, tetapi diolah menjadi proses belajar sosial.
Siswa diajak menyadari pentingnya menghabiskan makanan, mencuci alat makan sendiri, memilah sisa makanan, hingga mengolah limbah organik menjadi kompos atau pupuk.
“Di situlah nilai pendidikan bekerja. Anak-anak dilatih mandiri, disiplin, dan memahami bahwa makanan memiliki siklus panjang dari produksi hingga konsumsi. Ini sangat selaras dengan pembentukan karakter dan Profil Pelajar Pancasila,” jelasnya.
Pendekatan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pembelajaran kontekstual dan berkelanjutan. Integrasi MBG dengan kurikulum, khususnya melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dinilai mampu menjembatani pembelajaran di kelas dengan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Transformasi MBG melalui Gizi BerKarsa juga dinilai berpotensi menggerakkan ekosistem lokal. Keterlibatan UMKM, petani, hingga pengembangan kebun sekolah dapat menumbuhkan literasi pangan sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan di sekitar satuan pendidikan.
“Sekolah bisa menjadi pusat pembelajaran sekaligus contoh nyata ketahanan pangan skala kecil. Anak-anak belajar menanam, merawat, hingga memahami pentingnya kedaulatan pangan bangsa,” imbuhnya.
Di tingkat lapangan, Program Gizi BerKarsa dijalankan melalui kolaborasi antara sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Godog sebagai mitra logistik dan sosial pendidikan.
Pengelola SPPG Godog, Sutardi, menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab guru, dinas, atau sekolah semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Program Makan Bergizi Gratis kami dorong agar menjadi stimulan lahirnya kegiatan-kegiatan positif di sekolah yang berdampak langsung pada pembentukan karakter siswa, terutama kemandirian, tanggung jawab, kepedulian ekologis, kerja sama, kekompakan, dan kedisiplinan,” ungkapnya.
Uji coba tahap awal Program Gizi BerKarsa dibiayai melalui swadaya masyarakat yang peduli terhadap pendidikan dan dikoordinir oleh Yayasan SMART Madani Indonesia (YASMI). Ketua YASMI, Dr. Sri Kalono, menegaskan bahwa pendidikan karakter membutuhkan lebih dari sekadar wacana dan komentar.
“Nilai-nilai seperti rasa syukur kepada Tuhan YME, kemandirian, tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, disiplin, serta kemampuan bekerja sama harus dihadirkan melalui praktik sehari-hari di sekolah, bukan hanya dibicarakan,” tegasnya.
Pilot program Gizi BerKarsa dilaksanakan di TK Godog 1 Polokarto, SD Godog 1 Polokarto, SD Pranan 1 Polokarto, serta SMP Negeri 3 Polokarto. Rangkaian kegiatan meliputi pemasangan sarana cuci tempat makan, pelatihan pembuatan sabun cair ramah lingkungan, pembuatan pupuk organik dari sisa makanan, hingga simulasi dan uji coba pencucian alat makan oleh siswa.
Dinas Pendidikan Kabupaten Sukoharjo memastikan pendampingan program akan dilakukan secara berkelanjutan agar praktik-praktik yang telah dimulai dapat terinstitusionalisasi dan berkembang menjadi budaya positif di sekolah.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, SPPG, masyarakat, dan lembaga pendamping, Program Gizi BerKarsa diharapkan dapat direplikasi dan dikembangkan lebih luas sebagai model praktik baik pendidikan karakter berbasis sekolah. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto