RADARSOLO.COM – Kabupaten Sukoharjo kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Tengah. Tak mengherankan pemerintah pusat gelontorkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), dengan total anggaran Rp 14 miliar. Dalam waktu dekat, akan digelar pelatihan untuk peningkatan sumber daya petani dalam mengoperasikan alsintan.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispertanikan) Sukoharjo Bagas Windaryatno menjelaskan, bantuan alsintan ini menjadi amunisi percepatan masa tanam dan produksi padi. Melalui dukungan teknologi, pengolahan lahan yang selama ini memakan waktu lama, diharapkan bisa dipersingkat.
“Mulai dari pengolahan lahan, masa tanam, hingga panen, semua lebih cepat dan efisien dengan alsintan. Dampaknya bukan hanya hemat waktu, tapi juga peningkatan luas tanam dan produktivitas padi,” kata Bagas saat penyerahan bantuan secara simbolis di lobi kantor bupati Sukoharjo, Kamis (22/1).
Bantuan yang diberikan, mulai dari 19 unit traktor roda crawler, 15 unit traktor roda empat, 10 unit traktor roda dua, tujuh unit drone pertanian, plus tiga unit combine harvester. Seluruh bantuan tersebut akan dimanfaatkan oleh Brigade Alsintan dan 28 kelompok tani penerima, yang tersebar di 12 kecamatan.
Bagas menegaskan, seluruh bantuan tersebut gratis tanpa pungutan biaya sepeser pun. Ia berharap sinergitas antara pemerintah daerah, Brigade Alsintan, dan kelompok tani mampu memaksimalkan pemanfaatan alat-alat tersebut di lapangan.
“Ini aset negara yang nilainya tidak murah. Kami ingin benar-benar dimanfaatkan untuk petani Sukoharjo, bukan disewakan ke daerah lain,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Sukoharjo Etik Suryani menilai bantuan alsintan tahun ini luar biasa. Menurutnya, bantuan tersebut harus dibarengi peningkatan sumber daya manusia (SDM) petani.
“Sehingga alatnya bisa dioperasikan secara optimal. Karena ini harganya mahal, jangan sampai tidak bisa digunakan. Maka SDM petani juga harus naik kelas,” beber Etik.
Etik juga menyoroti keberadaan drone pertanian yang dinilai belum familiar bagi petani. Karena itu, Etik meminta dispertanikan menjadwalkan pelatihan dan pendampingan secara intensif, terutama bagi petani milenial.
“Saya sudah bicara dengan Pak Bagas, akan ada pelatihan-pelatihan pendampingan. Gratis, tidak bayar. Kelompok tani bisa mengirimkan operatornya. Saya berharap dari petani muda, supaya bisa mengoperasikan alat-alat ini secara maksimal,” pinta Etik.
Etik menegaskan, pelatihan sangat penting agar bantuan tidak sia-sia dan tidak berujung kerusakan alat akibat salah pengoperasian. Untuk alat konvensional seperti traktor dan mesin panen, petani sudah cukup familiar. Namun untuk drone, dibutuhkan keahlian khusus.
“Jangan sampai sudah dapat bantuan, tapi tidak tahu cara pakainya. Drone ini tidak semua orang bisa mengoperasikan. Setelah menerima, harus ada jadwal pelatihan yang jelas,” tandasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto