Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ratusan Sekolah Belum Terima MBG, Begini Penjelasan Kadisdikbud Sukoharjo

Iwan Kawul • Senin, 26 Januari 2026 | 16:07 WIB

 

Pelajar SDN 1 Pranan, Kecamatan Polokarto berbaris hendak mencuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum menyantap menu makan bergizi gratis (MBG), Senin (26/1).
Pelajar SDN 1 Pranan, Kecamatan Polokarto berbaris hendak mencuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum menyantap menu makan bergizi gratis (MBG), Senin (26/1).

RADARSOLO.COM – Program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Sukoharjo masih menyisakan permasalahan pelik.

Hingga Senin (26/1), dari total 1.204 sekolah, baru 846 sekolah yang telah menerima program MBG. Artinya, masih kurang 358 sekolah yang belum dipasok MBG.

Sekolah tersebut yakni PAUD, TK, SD, dan SMP negeri maupun swasta yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo.

Meski belum semua sekolah menerima MBG, Kepala Disdikbud Sukoharjo Havid Danang Purnomo Widodo berharap paradigma terhadap program ini perlu diperluas.

Menurutnya, sekolah tidak semestinya hanya diposisikan sebagai titik distribusi makanan semata. Tetapi sebagai ruang pembelajaran nilai dan pembiasaan hidup sehat bagi peserta didik.

“MBG adalah program strategis nasional yang sangat penting. Tetapi akan jauh lebih bermakna jika diintegrasikan dengan proses pendidikan karakter. Anak-anak tidak hanya makan, tetapi belajar tanggung jawab, kebersihan, gotong royong, dan peduli terhadap lingkungan,” kata Havid.

Havid menambahkan, sekolah didorong berperan aktif sebagai subjek pedagogis. Aktivitas makan bersama di sekolah dapat diolah menjadi proses belajar sosial yang utuh. Mulai dari kesadaran menghabiskan makanan, mencuci alat makan sendiri, memilah sisa makanan, hingga mengolah limbah organik menjadi kompos atau pupuk.

“Di situlah nilai pendidikan bekerja. Anak-anak dilatih mandiri, disiplin, dan memahami bahwa makanan memiliki siklus panjang dari produksi hingga konsumsi. Ini selaras dengan pembentukan karakter dan Profil Pelajar Pancasila,” jelasnya.

Lebih lanjut, Havid menilai pendekatan tersebut sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pembelajaran kontekstual dan berkelanjutan. Integrasi MBG dengan kurikulum, khususnya melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dinilai mampu menjembatani teori di kelas dengan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Selain aspek pendidikan, transformasi MBG juga dinilai memiliki dampak ekonomi. Keterlibatan UMKM, petani lokal, serta pengembangan kebun sekolah berpotensi menumbuhkan literasi pangan. Sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan di sekitar satuan pendidikan.

“Sekolah bisa menjadi pusat pembelajaran sekaligus contoh nyata ketahanan pangan skala kecil. Anak-anak belajar menanam, merawat, hingga memahami pentingnya kedaulatan pangan bangsa,” imbuhnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#penyaluran mbg sukoharjo #sppg sukoharjo #program mbg sukoharjo #distribusi mbg sukoharjo