RADARSOLO.COM - Belimbing wuluh biasanya hanya digunakan untuk mengolah sayur asam dan sebagainya. Tapi di tangan siswa SDN Godog 1 Polokarto, Sukoharjo, belimbing wuluh dikreasi menjadi sabun cuci tangan. Karya mereka mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo Havid Danang Purnomo Widodo.
Sabun cuci dari ekstrak buah belimbing wuluh yang dikembangkan siswa SDN Godog 1, terbukti efektif membersihkan noda, lembut di tangan, dan aman bagi ekosistem perairan. Belimbing wuluh dipilih, karena kandungan senyawa saponin (busa alami) sebagai pengikat lemak, antiseptik, dan antibakteri.
Selain itu, belimbing wuluh juga mengandung flavonoid dan tanin, yang berfungsi sebagai antimikroba dan pembersih kotoran. Bahkan efektif juga untuk menghilangkan kerak pada keramik lantai.
Nilai plus dari pemanfaatan belimbing wuluh menjadi sabun cuci, yakni limbah cairnya yang aman bagi lingkungan. Tidak menyebabkan pencemaran air seperti sabun kimia pada umumnya. Selain itu, produk ini juga lembut di tangan dan memiliki aroma segar alami.
Tak mengherankan jika inovasi ini mendapat apresiasi dari Kepala Disdikbud Sukoharjo Havid Danang Purnomo Widodo. Siswa dan guru SDN 1 Godog 1 diundang ke kantor disdikbud, untuk mempresetasikan keunggulan sabun cair tersebut.
Hasil presentasi terkuak bahwa produk ramah lingkungan ini bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema kewirausahaan. Siswa dibimbing dan dilatih untuk mandiri, sekaligus ditingkatkan kompetensinya sejak usia dini.
Menurut Havid, sabun cuci dari belimbing wuluh merupakan contoh nyata dari pembelajaran kontekstual, yang menggabungkan pendidikan karakter, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan. Menurutnya, siswa SDN Godog 1 tidak sekadar belajar teori. Mereka juga diajak praktik langsung, mulai dari pengolahan hingga proses produksi.
“Melalui P5 tema kewirausahaan ini, anak-anak dilatih mandiri, kreatif, dan berani berinovasi. Belimbing wuluh dipilih karena mudah didapat di lingkungan sekitar. Serta memiliki manfaat sebagai bahan pembersih alami,” kata Havid.
Havid menambahkan, disdikbud memberikan dukungan penuh terhadap inovasi tersebut. Termasuk pendampingan dalam pengurusan perizinan produk. Pendampingan ini dilakukan agar sabun cuci tangan tersebut memenuhi standar dan layak dipasarkan secara luas. Bahkan juga diharapkan bisa menyuplai satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur makan bergizi gratis (MBG).
“Prinsipnya, kami tidak ingin karya anak-anak berhenti sebagai projek di sekolah saja. Dengan pendampingan perizinan, produk ini bisa dipasarkan secara legal. Bahkan berpotensi untuk menyuplai kebutuhan SPPG,” jelas Havid.
Selain melatih kewirausahaan, produksi sabun cuci tangan ini juga mengajarkan siswa tentang pentingnya kebersihan, pemanfaatan potensi lokal, serta tanggung jawab dalam menghasilkan produk yang aman digunakan.
“Diharapkan inovasi serupa dapat menginspirasi sekolah lain di Sukoharjo, untuk mengembangkan pembelajaran P5 yang aplikatif dan berdampak nyata bagi masyarakat,” beber Havid. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto