Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo Waspada Virus Nipah, Kenali Gejalanya serta Biasakan Pola Hidup Bersih dan Sehat

Iwan Kawul • Selasa, 3 Februari 2026 | 09:06 WIB
Ilusi pemeriksaan kesehatan di Puskesman Sukoharjo Kota.
Ilusi pemeriksaan kesehatan di Puskesman Sukoharjo Kota.

RADARSOLO.COM – Kewaspadaan dini kembali diperketat. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo merespons cepat terbitnya surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, seiring meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi penyebaran virus nipah. Meski hingga kini belum ditemukan satu pun kasus di Sukoharjo.

Mengutip dari laman World Health Organization (WHO), virus nipah adalah virus zoonosis. Biasanya ditularkan dari hewan ke manusia, tetapi juga dapat ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau langsung antarmanusia.

Virus nipah pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 saat wabah melanda peternakan babi di Malaysia. Pada tahun 1999, wabah dilaporkan di Singapura setelah impor babi yang sakit dari Malaysia.

Baca Juga: Anak-Anak Naik Sepeda Listrik Jadi Perhatian Polisi ssat Operasi Keselamatan Candi 2026 di Sukoharjo

Tidak ada wabah baru yang dilaporkan dari Malaysia atau Singapura sejak tahun 1999. Lalu pada tahun 2001, wabah infeksi virus nipah terdeteksi di India dan Bangladesh.

Di Bangladesh, wabah telah dilaporkan hampir setiap tahun sejak saat itu. Di India, wabah dilaporkan secara berkala di beberapa bagian negara, termasuk yang terbaru pada tahun 2026.

Pada tahun 2014, wabah dilaporkan di Filipina dan tidak ada kasus baru sejak saat itu.

Kelelawar buah dari famili Pteropodidae dianggap sebagai inang alami virus Nipah dan terdapat di berbagai bagian Asia dan Australia. Kelelawar buah Afrika dari genus Eidolon, famili Pteropodidae, telah ditemukan memiliki antibodi terhadap virus Nipah dan Hendra, yang menunjukkan bahwa virus-virus ini mungkin juga ada dalam sebaran geografis kelelawar Pteropodidae di Afrika.

Infeksi virus Nipah tampaknya tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar buah.

Penularan virus ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi seperti kelelawar, babi, atau kuda, dan dengan mengonsumsi buah-buahan atau produk buah, seperti jus kurma mentah, yang terkontaminasi oleh kelelawar buah yang terinfeksi. Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit parah pada hewan ternak seperti babi.  

Virus Nipah juga dapat menyebar antarmanusia. Virus ini telah dilaporkan di lingkungan perawatan kesehatan dan di antara keluarga serta pengasuh orang sakit melalui kontak dekat.

Di fasilitas kesehatan, risiko penyebaran dapat meningkat di lingkungan rumah sakit yang padat, berventilasi buruk, dan dengan implementasi tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang tidak memadai (seperti penggunaan alat pelindung diri, pembersihan dan disinfeksi, serta kebersihan tangan).

Baca Juga: SAR Kabupaten Sukoharjo Miliki Komandan Baru, Tongkat Pimpinan Dipegang Sekda Abdul Haris Widodo

Tanda dan gejalanya, masa inkubasi – yaitu waktu dari infeksi hingga munculnya gejala – berkisar antara 3 hingga 14 hari. Dalam beberapa kasus langka, masa inkubasi hingga 45 hari telah dilaporkan.

Bagi sebagian orang, infeksi virus nipah mungkin tidak menunjukkan gejala. Namun, sebagian besar orang mengalami demam, dan gejala yang melibatkan otak (seperti sakit kepala atau kebingungan), dan/atau paru-paru (seperti kesulitan bernapas atau batuk).

Organ lain juga dapat terpengaruh. Gejala lain yang sering muncul meliputi menggigil, kelelahan, mengantuk, pusing, muntah, dan diare.

Penyakit parah dapat terjadi pada pasien mana pun, tetapi terutama dikaitkan dengan orang-orang yang menunjukkan gejala neurologis, dengan perkembangan menjadi pembengkakan otak (ensefalitis) dan, seringkali, kematian. Perawatan suportif dan pemantauan yang cermat selama periode ini sangat penting.

Sebagian besar orang yang selamat pulih sepenuhnya, tetapi kondisi neurologis jangka panjang telah dilaporkan pada sekitar 1 dari 5 orang yang sembuh dari penyakit tersebut.

Baca Juga: Dugaan Perselingkuhan Berujung KDRT, Eks Manajer Hotel Di Solo Laporkan Suaminya Ke Polisi

Kepala DKK Sukoharjo Tri Tuti Rahayu memastikan, kondisi Sukoharjo masih aman. Namun, ia menegaskan bahwa kewaspadaan tidak boleh kendor, mengingat karakter Virus Nipah yang dikenal cepat menular dan berisiko menimbulkan dampak serius.

“Sampai saat ini belum ada laporan masuk terkait kasus Nipah di Sukoharjo. Tetapi antisipasi tetap harus kita lakukan sejak dini,” ujarnya, Senin (2/2) malam.

Mobilitas masyarakat yang cukup tinggi, baik keluar maupun masuk daerah, menjadi salah satu perhatian utama. Karena itu, DKK Sukoharjo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif menjaga diri dan lingkungan sebagai benteng pertama pencegahan.

Sejumlah langkah preventif pun kembali ditekankan. Masyarakat diminta menghindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi menjadi sumber penularan, khususnya kelelawar dan babi. Kontak tersebut perlu dihindari dalam kondisi apa pun, baik saat hewan hidup, sakit, maupun mati.

Tak hanya itu, kewaspadaan juga diperlukan dalam memilih dan mengolah pangan. Buah-buahan yang berisiko terkontaminasi air liur, urin, atau kotoran kelelawar sebaiknya tidak dikonsumsi. DKK Sukoharjo menyarankan buah dicuci bersih dengan air mengalir dan dikupas sebelum dimakan.

Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kembali menjadi kunci. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dinilai efektif memutus mata rantai penularan berbagai penyakit, termasuk Virus Nipah.

Bagi petugas kesehatan dan pihak yang bersentuhan langsung dengan hewan berisiko, penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi keharusan.

Sementara masyarakat umum diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, gangguan pernapasan, hingga penurunan kesadaran, terutama setelah melakukan kontak dengan hewan berisiko.

DKK Sukoharjo juga mengimbau masyarakat untuk menunda perjalanan ke wilayah terjangkit jika tidak mendesak serta tetap mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

“Kami mengajak masyarakat tetap tenang, namun waspada. Jangan mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Ikuti selalu informasi resmi dari Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan,” pungkas Tri Tuti. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Apa itu virus nipah #Kasus nipah sukoharjo #Dinas kesehatan kabupaten sukoharjo #DKK Sukoharjo #Virus nipah sukoharjo