Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Gandeng Investor, Desa Mulur Sukoharjo Jadi Lahan Uji Coba Penanaman Beras Japonica Dari Jepang

Iwan Kawul • Selasa, 10 Februari 2026 | 16:05 WIB

 

Penanaman beras varietas Japonika di Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, belum lama ini.
Penanaman beras varietas Japonika di Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, belum lama ini.

RADARSOLO.COM – Polres Sukoharjo mendukung program pengembangan varietas beras baru jenis Japonica, untuk menekan ketergantungan impor beras premium. Program tersebut diinisiasi Kapolda Jateng Irjen Pol Ribut Hari Wibowo, yang dilaksanakan Polres Sukoharjo bersama Komisi IV DPR RI, Kementerian Pertanian (Kementan), pemerintah desa, serta swasta.

Beras Japonica merupakan varietas Oryza sativa subsp. Beras jenis ini termasuk kualitas premium, dengan ciri-ciri bulir bulat, gemuk, dan berwarna putih mengkilap. 

Karena premium, beras ini memiliki karakteristik pulen, lengket, dan kenyal. Karena kandungan amilosanya rendah, beras Japonica sering dipakai untuk bahan utama pembuatan sushi, onigiri, dan kimbap.

Tak mengherankan jika banyak sekali gerai dan restoran Jepang atau Korea yang memburu beras Japonica. Sayangnya, beras varietas ini kebanyakan masih impor.

Nah, memenuhi kebutuhan tersebut, jajaran Polres Sukoharjo menginisiasi penanaman beras Japonica dengan menggandeng investor swasta. 

Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo menjelaskan, beras Japonica banyak dipakai restoran Jepang dan Korea. Teksturnya lebih pulen dan lengket dibanding beras pada umumnya. Selama ini, kebutuhan beras tersebut masih diimpor.

“Bapak presiden menegaskan tidak boleh impor. Maka beras-beras premium seperti Japonica ini harus ditanam di dalam negeri. Harapannya, kebutuhan restoran-restoran luar negeri yang ada di Indonesia terpenuhi oleh beras lokal,” kata Anggaito.

Desa Mulur, Kecamatan Bendosari jadi yang pertama uji coba penanaman beras Japonica. Luasan lahannya mencapai 16 hektare.

Alhamdulillah komunikasi berjalan baik. Ke depan tidak menutup kemungkinan diperluas ke wilayah lain di Sukoharjo, bahkan kabupaten lain,” imbuhnya.

Soal benih, Anggaito mengaku dipasok Balai Benih Pertanian Subang, Jawa Barat yang telah terdaftar di Kementan. Sedangkan masa tanam padi Japonika sekira 110 hari, dengan potensi hasil panen secara nasional mencapai 7 ton per hektare.

“Kami optimistis melihat potensi pertanian di Bendosari yang luar biasa. Hasilnya pasti bisa lebih tinggi. Padi biasa di sini tembus 10 ton per hektare. Mudah-mudahan uji coba ini bisa mencapai angka itu,” beber Anggaito.

Terkait perawatan, Anggaito menegaskan tidak ada perbedaan dengan padi pada umumnya. Sedangkan untuk pemasaran, beras Japonica sudah memiliki segmen pasar tersendiri.

“Kami fokus budi daya. Soal branding dan pemasaran, nanti ditangani pihak produsen atau mitra usaha,” jelasnya.

Sementara itu, perwakilan investor dari Bio Nusa Lestari Eduardo Castillo memilih Bendosari karena kualitas tanahnya cocok untuk beras Japonika.

“Kami percaya komunitas di Sukoharjo memiliki tanah dan kondisi yang mendukung. Kami membawa standar operasi modern dari luar negeri, tetapi menggunakan infrastruktur, tanah, kontraktor, hingga tenaga lokal untuk memproduksi Japonica,” bebernya. 

Menurut Eduardo, permintaan beras Japonica di Indonesia terus meningkat, khususnya untuk segmen restoran dan rumah tangga premium. Dengan memproduksi secara lokal, Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada pasokan dari luar negeri.

“Kami sudah melakukan riset, mulai dari pengecekan tanah, air, hingga pengambilan sampel. Hasilnya sangat cocok. Peran Kapolda sangat besar karena memahami struktur tanah dan potensi wilayah, sehingga Sukoharjo dipilih sebagai lokasi percontohan,” pungkasnya. (kwl)

Editor : fery ardi susanto
#penanaman beras japonica di desa mulur sukoharjo #uji coba beras japonica desa mulur sukoharjo #apa itu beras japonica #beras japonica