Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Sukoharjo Kota Rawan Demam Berdarah, Angka Bebas Jentik Nyamuk 85 Persen, Jauh Di Bawah Target Nasional

Iwan Kawul • Rabu, 11 Februari 2026 | 11:58 WIB
Pantauan jentik nyamuk aedes aegypti di Kecamatan Sukoharjo Kota
Pantauan jentik nyamuk aedes aegypti di Kecamatan Sukoharjo Kota

RADARSOLO.COM – Di musim penghujan, ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan nyamuk aedes aegypti patut diwaspadai.

Tak terkecuali di Kecamatan Sukoharjo Kota, di mana angka bebas jentik (ABJ) di sana hanya 85 persen.

ABJ tersebut masih jauh dari standar aman nasional yang ditetapkan di atas 95 persen. Artinya, tingkat penularan DBD di sana cukup tinggi.

Fakta mengejutkan terkuak, karena masih ditemukan jentik nyamuk aedes aegypti di sejumlah rumah, terutama di kawasan padat penduduk.

Kepala Puskesmas Sukoharjo Kota dr. Kunari Mahanani mengatakan, rendahnya ABJ menjadi perhatian serius. Sebab ABJ merupakan indikator utama keberhasilan pengendalian DBD di suatu wilayah.

“Masih ada rumah atau tempat umum yang ditemukan jentik nyamuk saat pemeriksaan. Idealnya, ABJ harus di atas 95 persen agar risiko penularan DBD bisa ditekan,” kata Kunari, Rabu (11/2).

Kunari menambahkan, ABJ dihitung dari persentase rumah atau tempat umum yang tidak ditemukan jentik nyamuk aedes aegypti saat dilakukan pemeriksaan.

Semakin tinggi angka ABJ, semakin rendah kepadatan jentik dan risiko penyebaran DBD.

Sebaliknya, jika ABJ berada di bawah 95 persen, maka diperlukan upaya pengendalian yang lebih intensif untuk memutus siklus hidup nyamuk.

Sebagai langkah antisipasi, Puskesmas Sukoharjo Kota melakukan pantauan ke permukiman padat penduduk.

Kegiatan melibatkan dokter muda dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), mendampingi petugas kesehatan dan kader jumantik.

“Pemantauan ini tidak hanya untuk melihat keberadaan jentik, tetapi juga sarana edukasi ke masyarakat,” jelasnya.

Hasil pantauan, ditemukan tempat-tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Seperti bak mandi, ember, vas bunga, dan barang bekas.

Kunari mendorong masyarakat untuk disiplin menjalankan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.

Berupa menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup rapat, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas.

“PSN 3M Plus harus dibiasakan. Plusnya adalah penggunaan larvasida, memasang kawat kasa, dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian,” paparnya.

Selain itu, Puskesmas Sukoharjo Kota juga mengaktifkan kembali peran juru pemantau jentik (jumantik) di tingkat rumah tangga dan lingkungan. Konsepnya satu rumah satu jumantik.

Pemantauan jentik dilakukan secara berkala, minimal sekali dalam sebulan, untuk memastikan tidak ada tempat perindukan nyamuk di sekitar tempat tinggal warga.

“Jika ABJ masih di bawah 95 persen, pengendalian harus ditingkatkan. Selain fogging, paling utama intensifikasi PSN," beber Kunari. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Kecamatan Sukoharjo Kota #Angka bebas jentik #Demam berarah dengue #Puskesmas Sukoharjo Kota #Sukoharjo kota rawan dbd #Abj sukoharjo kota #sukoharjo kota #DBD