RADARSOLO.COM - Suara tawa anak-anak terdengar riuh di Dusun Balong RT 01 RW 04, Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, di suatu pagi di bulan Februari 2026.
Pagi itu, deretan kandang sapi yang biasanya dipenuhi aktivitas para peternak, mendadak berubah menjadi ruang belajar terbuka. Puluhan anak TK dan PAUD datang berkunjung, didampingi guru mereka untuk mengenal dunia ternak secara langsung.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa (Kades) Sarjanto yang akrab disapa Jigong, kawasan kandang ternak kolektif yang dibangun sejak 2023 itu fungsinya diperluas.
Bukan sekadar budi daya ternak sapi, kandang kolektif ini juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak usia dini.
Saat berlajar di kandang kolektif, anak-anak terlihat antusias. Ada yang berani mendekat ke sapi, ada juga yang bersembunyi di balik badan gurunya.
Sebagian memegang rumput yang telah disiapkan peternak, lalu menyodorkannya perlahan ke mulut sapi. Sesekali terdengar teriakan kecil, antara takut dan kagum ketika sapi mulai mengunyah rumput.
“Kami tidak menyangka kandang ini bisa jadi tempat belajar anak-anak. Ini sangat positif. Mereka bisa belajar mengenal susu sapi, daging, dan sebagainya," kata Jigong.
Kandang kolektif berdiri di atas tanah kas desa seluas 5.000 meter persegi. Awalnya dibangun untuk mengurangi potensi konflik bau di permukiman warga. Kini, di kompleks tersebut berdiri 13 unit kandang yang diisi 25 ekor sapi.
Bagi para guru PAUD, kunjungan ini menjadi pembelajaran kontekstual yang tidak bisa didapatkan di dalam kelas. Anak-anak tidak hanya melihat gambar sapi di buku, tetapi benar-benar menyentuh, mencium aroma kandang, dan melihat proses pemberian pakan secara langsung.
Jigong menilai, pengalaman seperti ini penting untuk menanamkan rasa hormat terhadap profesi peternak.
“Kami ingin anak-anak tahu bahwa beternak itu pekerjaan mulia. Jangan sampai generasi muda merasa jauh dari dunia pertanian dan peternakan,” imbuhnya.
Menurut Jigong, kandang kolektif memberi rasa aman bagi orang tua dan guru yang membawa anak-anaknya berkunjung.
Area sudah tertata, dengan pagar permanen yang dibangun melalui bantuan aspirasi Wakil Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo. Sehingga akses keluar-masuk lebih terkontrol.
Bagi Desa Pranan, kunjungan TK dan PAUD ini menghadirkan makna baru. Kandang kolektif menjelma menjadi laboratorium kecil kehidupan di pedesaan.
Tempat anak-anak belajar tentang ekosistem ekonomi pedesaan, tentang relasi manusia dan hewan, serta tentang akar budaya yang perlu dijaga.
“Kalau sejak kecil mereka sudah mengenal dunia ternak, harapannya nanti ada yang tertarik melanjutkan. Desa tidak boleh kehilangan generasi peternak,” beber Jigong. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto