RADARSOLO.COM – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam PMII Komisariat Raden Mas Said Cabang Sukoharjo demo di Tugu Kartasura, Selasa (24/2).
Aksi tersebut digelar sebagai bentuk respons terhadap situasi kebangsaan yang dinilai kembali tercoreng, oleh aksi dugaan kekerasan yang melibatkan aparat kepolisian.
Mengenakan jas kebanggaan PMII berwarna biru, para mahasiswa membentangkan sejumlah spanduk berisi tuntutan dan kritik.
Mereka juga menyampaikan orasi secara bergantian di kawasan tugu. Meski menyuarakan kritik keras, aksi berlangsung tertib dengan pengawalan ketat aparat keamanan.
Koordinator lapangan aksi demo Irfan menegaskan, kegiatan tersebut bentuk keprihatinan mahasiswa terhadap berbagai peristiwa yang dinilai mencederai rasa keadilan masyarakat.
“Kami menyikapi situasi dan kondisi bangsa saat ini. Kita kembali terluka karena aparat kepolisian lagi-lagi mengulangi kesalahan yang sama. Ada beberapa kasus yang belum tuntas,” ujar Irfan di sela aksi.
Ia juga menyinggung sejumlah peristiwa lain yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Seperti Agustus 2025 lalu, terdapat korban yang berjatuhan yang ternyata pelajar.
“Ini yang membuat kami semakin geram. Ketika korbannya adalah pelajar, itu menunjukkan bahwa ada persoalan serius yang harus segera dibenahi,” tegasnya.
Selain menyoroti dugaan tindakan represif aparat, massa aksi juga menyinggung soal adanya tahanan politik dari kalangan aktivis.
Irfan menyebut, penahanan terhadap sejumlah aktivis menjadi alarm bagi demokrasi.
“Kami melihat ada cukup banyak teman-teman aktivis yang tersangkut persoalan hukum. Ini menjadi perhatian kami. Demokrasi harus dijaga, ruang kritik tidak boleh dibungkam,” lanjutnya.
Dalam aksinya, PMII menegaskan bahwa mereka memilih jalur damai sebagai bentuk komitmen menjaga kondusivitas wilayah.
Selain berorasi, mahasiswa juga membagikan takjil kepada pengguna jalan yang melintas karena aksi ini bertepatan dengan bulan Ramadan.
“Kami hadir menyuarakan aspirasi dengan cara yang santun. Karena itu kami mengusung aksi damai dan dibarengi dengan berbagi takjil. Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tetap bisa kritis tanpa harus anarkis,” kata Irfan. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto