RADARSOLO.COM - Hamparan sawah hijau membentang luas di Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo.
Dari kejauhan, terlihat dua bukit batu raksasa yang berdiri saling berhadapan. Seolah menjadi gerbang alami di tengah pedesaan yang tenang.
Inilah sekelumit gambaran Gunung Sepikul. Tak hanya menawarkan keindahan alam, tapi juga menyimpan kisah misteri yang diwariskan turun-temurun.
Dua bukit batu yang menjulang, memiliki bentuk yang sangat unik. Jika dilihat dari kejauhan, keduanya terlihat seperti beban yang siap dipikul seseorang.
Dari sinilah nama “Sepikul” berasal. Namun bagi warga sekitar, bukit batu tersebut bukan sekadar fenomena alam biasa.
Mereka percaya, tempat itu berkaitan dengan legenda besar dari tanah Jawa. Kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Menurut cerita rakyat yang berkembang, bebatuan besar di puncak Gunung Sepikul merupakan sisa material yang dahulu dipikul oleh para jin suruhan Bandung Bondowoso.
Batu-batu itu konon hendak dipakai untuk membangun Candi Prambanan dalam satu semalam, sebagai syarat meminang Roro Jonggrang.
Namun, rencana itu gagal ketika Roro Jonggrang melancarkan tipu muslihat dengan membuat suara lesung dan membakar jerami, sehingga sang mentari terbit lebih awal. Alhasil para jin mengira fajar telah tiba.
Merasa waktu telah habis, para jin meninggalkan batu-batu yang sedang mereka bawa. Batu itulah yang diyakini warga Desa Tiyaran sebagai Gunung Sepikul.
Tri Santoso, warga Desa Tiyaran mengaku legenda diceritakan turun-temurun. Sehingga sangat akrab di telinga warga sekitar.
Cerita itu sering disampaikan oleh orang tua maupun para sesepuh desa.
“Dari dulu, orang sini percaya batu-batu di Gunung Sepikul itu bagian dari bahan candi yang dipikul jin. Makanya bentuknya besar-besar dan seperti ditumpuk,” ujar Tri, Jumat (6/3).
Menurut Tri, selain legenda Bandung Bondowoso, warga juga mengenal cerita lain yang tak kalah menarik.
Ada yang menyebut tempat itu berkaitan dengan dua saudara kembar yang membawa batu besar untuk membangun candi.
“Versi lain menyebutkan, ada dua saudara yang membawa batu besar, lalu berhenti di sini. Karena itulah bentuknya seperti dua gunung yang berdampingan,” bebernya.
Di balik cerita legenda tersebut, Gunung Sepikul juga dikenal memiliki aura spiritual. Pada masa lalu, kawasan ini kerap digunakan sebagai tempat bertapa atau mencari ketenangan batin.
Tri mengaku, beberapa orang dari luar daerah bahkan masih datang untuk tirakatan atau meditasi.
“Dulu katanya sering ada orang yang bertapa di sini. Sampai sekarang kadang ada yang datang malam-malam untuk meditasi, atau sekadar mencari ketenangan,” imbuhnya.
Karena cerita-cerita itu pula, sebagian pengunjung mengaku merasakan aura berbeda ketika berada di kawasan Gunung Sepikul. Terutama saat suasana sepi atau menjelang malam.
“Kalau siang ya biasa saja. Malah indah sekali pemandangannya. Tapi kalau sore menjelang malam atau saat sepi, suasana mistisnya langsung terasa,” kata Tri.
Kendati demikian, warga setempat tidak pernah menganggap tempat tersebut menakutkan. Bagi mereka, Gunung Sepikul justru menjadi bagian dari identitas desa yang harus dijaga.
Selain nilai legenda dan spiritual, kawasan ini semakin populer sebagai destinasi wisata alam.
Banyak pengunjung datang untuk menikmati panorama dari atas bukit, mendaki ringan, berkemah, hingga berfoto di antara bebatuan purba yang menjulang tinggi.
Dari puncak bukit, hamparan sawah dan pepohonan hijau terlihat luas membentang.
Saat cuaca cerah, pemandangan langit biru yang dihiasi awan putih membuat suasana terasa sangat menenangkan.
“Sekarang banyak anak muda yang datang untuk naik ke atas, foto-foto, atau camping. Tapi, warga tetap berharap pengunjung menjaga sopan santun karena tempat ini juga dianggap punya sejarah dan cerita,” kata Tri.
Hingga kini, dua bukit batu yang berdiri kukuh di tengah hamparan sawah itu masih menyimpan tanda tanya besar.
Apakah benar bebatuan raksasa itu pernah dipikul para jin dalam kisah cinta yang berakhir kutukan?
Ataukah hanya karya alam yang kebetulan menyerupai legenda?
Yang pasti, Gunung Sepikul tetap menjadi saksi bisu cerita yang terus hidup di tengah masyarakat.
Cerita yang membuat setiap hembusan angin di antara bebatuan itu terasa membawa bisikan masa lalu. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto