Kemarau Panjang Mengintai Di 2026, Ancang-Ancang Revitalisasi Dam Cendono Sukoharjo
Iwan Kawul• Jumat, 27 Maret 2026 | 12:56 WIB
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno melakukan mitigasi hadapi kemarau di Dam Cendono, Desa Gentan, Bendosari, Sukoharjo, Jumat (27/3).
RADARSOLO.COM – Mengantisipasi potensi kemarau panjang 2026, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo (Distankan) mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini.
Salah satunya dengan rencana revitalisasi Dam Cendono di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari.
Kepala Distankan Sukoharjo Bagas Windaryatno mengatakan, upaya tersebut difokuskan untuk menjaga kelancaran distribusi air irigasi, terutama saat debit air mulai menurun di musim kemarau.
“Dam Cendono di Desa Gentan akan kami revitalisasi dengan dikeruk. Mulai dari hulu hingga jaringan irigasi ke bawah akan kami benahi,” ujar Bagas, Jumat (27/3).
Ia menjelaskan, aliran irigasi dari Dam Cendono tersebut mengairi tiga desa, yakni Desa Gentan dan Sidorejo di Kecamatan Bendosari, serta Desa Pandean di Kecamatan Grogol.
Jika tidak dilakukan perbaikan, sedimentasi di saluran berpotensi menghambat aliran air saat musim kemarau.
Menurutnya, langkah ini telah disepakati bersama dan akan mendapat dukungan dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) berupa bantuan alat berat.
“Dalam waktu dekat akan dilakukan survei, kemudian segera dieksekusi. Harapannya, secara bertahap dan konsisten, titik-titik yang berpotensi menjadi masalah saat curah hujan rendah bisa kita antisipasi sejak awal,” jelasnya.
Selain fokus pada infrastruktur irigasi, Distankan juga melakukan mitigasi di wilayah sumber air, khususnya di Kecamatan Bendosari dan Grogol.
Para koordinator penyuluh pertanian di seluruh kecamatan diminta melakukan pengecekan menyeluruh terhadap sarana pendukung air.
“Kami minta dilakukan pengecekan pompa air, baik untuk sumber air permukaan seperti sungai dan embung, maupun sumur dalam. Jangan sampai saat dibutuhkan justru terjadi kendala,” tegas Bagas.
Ia menambahkan, pengecekan juga mencakup jaringan irigasi perpipaan serta koordinasi dengan kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) untuk memastikan seluruh sarana dalam kondisi siap pakai.
Di sisi lain, Distankan juga mendorong petani untuk mulai merencanakan musim tanam (MT) berikutnya dengan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekurangan air.
“Kami juga mengarahkan agar penggunaan varietas yang lebih tahan kering menjadi pertimbangan pada musim tanam berikutnya. Ini penting untuk menjaga produktivitas pertanian,” imbuhnya.
Bagas menegaskan, pihaknya akan terus melakukan identifikasi dan mitigasi setiap hari terhadap berbagai faktor yang berpotensi mengganggu produksi pertanian ke depan.
Langkah ini sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dan cenderung lebih kering.
Kondisi tersebut diperkirakan mulai berlangsung sejak April dan mencapai puncak pada Agustus 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo, sebelumnya juga menyampaikan bahwa wilayah Sukoharjo mulai memasuki musim kemarau pada April dasarian kedua.
“Untuk Sukoharjo, kemarau diprediksi mulai masuk pada April dasarian kedua. Kami sudah mulai melakukan langkah antisipasi,” ujarnya.
BPBD pun telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, di antaranya distribusi bantuan air bersih serta pembangunan sumur dalam di wilayah rawan kekeringan seperti Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru.
Masyarakat diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan yang diperkirakan lebih panjang tahun ini.
“Dengan kondisi kemarau yang lebih kering, kami minta masyarakat lebih bijak dalam penggunaan air dan segera melapor jika mengalami kesulitan air bersih,” tandasnya. (kwl/fer)