Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sejarah Makam Kyai Langsur Sukoharjo, Tradisi Pengantin Keliling Makam Dan Larangan Pelihara Sapi

Iwan Kawul • Jumat, 27 Maret 2026 | 17:45 WIB
Gerbang utama Makam Kyai Langsur di Kampung Klurahan, Kecamatan Sukoharjo Kota, Kabupaten Sukoharjo.
Gerbang utama Makam Kyai Langsur di Kampung Klurahan, Kecamatan Sukoharjo Kota, Kabupaten Sukoharjo.

RADARSOLO.COM - Siang mulai tinggi, namun awan mendung menghalangi sinar mentari di Kampung Klurahan, Kelurahan/Kecamatan Sukoharjo.

Di bawah bayangan awan mendung, suasana kompleks Makam Kyai Langsur terasa berbeda. 

Angin berembus pelan, membawa aroma bunga setaman yang tertata rapi di pusara tua itu.

Warga setempat percaya, di sinilah jejak seorang bangsawan keraton yang memilih jalan sunyi—melawan penjajahan, lalu menghilang dalam legenda.

Makam tersebut diyakini peristirahatan terakhir Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryobroto alias Kyai Langsur.

Nama “Langsur” konon berasal dari kisah hidupnya yang “nglangsur” atau berangsur-angsur meninggalkan kemewahan keraton, demi perjuangan dan kehidupan rakyat kecil.

Baca Juga: Kemarau Panjang Mengintai Di 2026, Ancang-Ancang Revitalisasi Dam Cendono Sukoharjo

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo Havid Danang Purnomo Widodo menjelaskan, Makam Kyai Langsur tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kerajaan Mataram dan konflik internal keraton di masa lalu.

“Secara historis, Kyai Langsur masih memiliki garis keturunan dari Keraton Kasunanan Surakarta, di bawah kekuasaan Pakubuwana (PB) V. Namun, beliau bukan putra permaisuri, melainkan seorang selir. Itu yang membuat posisinya tidak kuat secara politik di dalam keraton,” jelas Havid.

Baca Juga: Arus Mudik Lebaran 2026 Bikin Lalu Lintas Di Sukoharjo Padat, 300 Ribu Kendaraan Melintas

Dalam catatan tutur yang berkembang di masyarakat, Kyai Langsur disebut sebagai Raden Mas Surya Brata. Sosok cerdas, taat, sekaligus memiliki kemampuan batin yang kuat.

Ia hidup di masa penuh gejolak, ketika konflik antara pihak keraton, bangsawan, dan kekuatan kolonial semakin memuncak. 

Ketegangan memuncak dalam berbagai peristiwa besar, mulai dari konflik antara bangsawan Mataram, hingga pecahnya Perjanjian Giyanti yang membelah kekuasaan menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.

Di tengah situasi itu, muncul pula perlawanan rakyat yang dipimpin tokoh-tokoh besar seperti Pangeran Diponegoro.

“Dalam berbagai versi cerita, Kyai Langsur ini tidak tahan melihat perlakuan Belanda terhadap rakyat. Ia kemudian memilih keluar dari keraton dan bergabung dengan kelompok perlawanan,” imbuh Havid.

Pelariannya berujung di Klurahan, Sukoharjo.

Namun bukan sebagai bangsawan, melainkan rakyat biasa. Ia menyamar, hidup bersama petani, bahkan mengajarkan berbagai keterampilan mulai dari bercocok tanam hingga ilmu kanuragan.

Aura sakral makam terasa saat digelar tradisi sadranan setiap tahun. Biasanya pada bulan purnama pada September.

Baca Juga: Nastar Jambu Air Khas Desa Pranan Sukoharjo Hiasi Meja Lebaran, Berkah Anjloknya Harga Buah

Tradisi ini bukan sekadar ziarah, tetapi perpaduan antara ritual spiritual dan budaya Jawa yang kental. 

Malam hari diawali dengan doa bersama di kompleks makam. Keesokan harinya, warga menggelar kirab budaya dengan mengenakan busana adat Jawa.

Iring-iringan berjalan pelan diiringi gamelan, membawa tombak, payung, dan bunga setaman.

Menariknya, ada satu tradisi unik yang masih terjaga. Pemuda asli Klurahan yang menikahi gadis luar daerah, wajib melakukan prosesi mengelilingi makam Kyai Langsur.

“Itu simbol penghormatan dan mohon restu kepada leluhur,” terang Havid.

Tak hanya itu, ada pula pantangan yang masih diyakini sebagian warga. Mereka dilarang memelihara ternak seperti sapi, babi, dan kuda.

Sebagai ganti, dulu warga setempat pilih memelihara kerbau. 

“Bagi sebagian orang, pantangan itu terdengar tak masuk akal. Namun bagi warga Klurahan, itu warisan yang tak terpisahkan dari identitas mereka,” ujarnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#makam kyai langsur #sejarah makam kyai langsur #sukoharjo #sukoharjo kota