RADARSOLO.COM - Masjid Agung Jatisobo bukan sekadar tempat ibadah. Di balik bangunan tuanya, tersimpan jejak sejarah panjang yang menjadi titik awal lahirnya permukiman hingga berkembang menjadi Desa Jatisobo seperti saat ini.
Dari masjid inilah denyut kehidupan warga mulai tumbuh. Kawasan yang dulunya berupa hutan perlahan berubah menjadi pusat aktivitas masyarakat. Hingga kini, masjid tersebut tetap menjadi poros kehidupan sosial, budaya, sekaligus spiritual warga.
Salah satu tradisi yang masih terjaga adalah megengan, ritual sedekah menjelang Ramadan. Warga membawa tumpeng, apem, dan berbagai makanan ke masjid untuk kemudian dibagikan bersama.
“Budaya yang sampai saat ini masih dipegang seperti megengan itu seperti sedekah yang dikumpulkan di masjid berupa tumpeng-tumpeng, seperti apem dan sebagainya lalu dibagikan setelah maghrib. Itu dilakukan biasanya menjelang Ramadan seperti kemarin,” ujar pengurus masjid, Adi Sarmoko.
Baca Juga: Kapan Bansos PKH-BPNT Tahap 2 2026 Cair? Cek Perkiraan Jadwal Penyalurannya Usai Lebaran
Tak hanya itu, kesenian rabana juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jatisobo. Tradisi ini biasanya hadir dalam berbagai hajatan, mulai dari syukuran hingga perayaan tertentu. Iringan rabana yang dimainkan berkeliling pelataran masjid menjadi simbol kebersamaan warga.
“Budaya yang masih dijaga itu seperti rabana. Kalau ada orang punya gawe biasanya diiring keliling pelataran dengan rabana,” imbuhnya.
Baca Juga: Cara Cek Bansos Cair April 2026 Secara Online di cekbansos.kemensos.go.id, Cuma Siapkan NIK
Tradisi megengan dan rabana menjadi bukti bahwa fungsi masjid tidak berhenti pada aspek ibadah semata. Masjid Agung Jatisobo menjelma sebagai ruang kolektif yang mengikat nilai kebersamaan dan identitas warga secara turun-temurun.
Berada di Kecamatan Polokarto, wilayah terluas di Kabupaten Sukoharjo, masjid ini juga menyimpan peran penting dalam penyebaran agama Islam di kawasan tersebut. Sejarahnya tak lepas dari sosok Muhammad Iman atau Kyai Khotib Iman, tokoh agama yang menjadi pendiri desa.
Baca Juga: Masjid Mujahidin Sambungmacan Sragen, Saksi Bisu Perlawanan Diponegoro
Dia diketahui pernah mengabdi di lingkungan Keraton Kartasura sebagai pengajar agama. Bekal keilmuan tersebut membawanya dalam perjalanan dakwah ke berbagai wilayah.
“Keterkaitan berdirinya Masjid Agung Jatisobo itu juga jadi awal berdirinya Desa Jatisobo dan itu berasal dari tokoh sesepuh kami atau pendiri desa kami yang bernama Muhammad Iman atau Kyai Khotib Iman,” jelas Adi.
Pasca peristiwa Geger Pecinan, Muhammad Iman ikut meninggalkan Kartasura dan memulai perjalanan dakwah ke arah timur. Dia sempat mendirikan masjid di wilayah Kayuapak sebelum akhirnya menemukan kawasan hutan yang kini menjadi Desa Jatisobo.
Di lokasi itulah, Masjid Agung Jatisobo didirikan. Keberadaannya menjadi titik awal terbentuknya komunitas. Warga mulai berdatangan, menetap, hingga membangun kehidupan sosial dan ekonomi di sekitarnya.
Seiring waktu, kawasan sekitar masjid berkembang pesat. Aktivitas perdagangan mulai tumbuh, bahkan pasar hadir di sekitar area masjid. Masjid pun menjelma menjadi pusat kehidupan warga, tak hanya dalam urusan ibadah, tetapi juga interaksi sosial.
Menariknya, pendirian masjid ini juga memiliki keterkaitan dengan Keraton Kasunanan Surakarta pada masa Pakubuwono III hingga Pakubuwono IV. Kala itu, keraton membutuhkan kayu jati dalam jumlah besar untuk kebutuhan bangunan.
Baca Juga: Jagongan Moderasi Beragama Perkuat Persaudaraan Warga Desa Rejosari sebagai Desa Moderat
“Berdirinya Masjid Agung Jatisobo ini ada kaitannya dengan Keraton Kasunanan Surakarta yang memerlukan kayu jati yang cukup banyak. Lalu diperintahlah abdi dalem untuk mencari kayu jati tersebut sampai di Desa Jatisobo,” ujarnya.
Kayu jati dari wilayah tersebut kemudian digunakan untuk mengganti Soko Guru di Keraton Kasunanan Surakarta. Setelah itu, Kyai Khotib Iman memohon izin untuk mendirikan masjid di kawasan tersebut.
Kini, Masjid Agung Jatisobo tak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga penjaga tradisi. Dari megengan hingga rabana, nilai-nilai kebersamaan terus hidup, menjadikan masjid ini sebagai simbol harmoni antara dakwah dan budaya di tengah masyarakat. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy