Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Konflik Timur Tengah Bikin Harga Plastik Mahal, Mendag Budi Santoso Klaim Pemerintah Lirik Nafta Dari Afrika Dan Amerika

Iwan Kawul • Kamis, 2 April 2026 | 16:22 WIB
Mendag RI Budi Santoso saat  mengunjungi budi daya magot yang dikelola Pengurus Daerah Aisyiyah Kabupaten Sukoharjo di Kampung Pokakan, Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo Kota, Kamis (2/4).
Mendag RI Budi Santoso saat  mengunjungi budi daya magot yang dikelola Pengurus Daerah Aisyiyah Kabupaten Sukoharjo di Kampung Pokakan, Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo Kota, Kamis (2/4).

 RADARSOLO.COM – Di tengah dinamika global yang berdampak pada rantai pasok industri, pemerintah bergerak cepat mengantisipasi potensi gangguan bahan baku plastik.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan langkah strategis tengah disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas produksi dalam negeri.

Hal itu disampaikannya saat mengunjungi budi daya magot yang dikelola Pengurus Daerah Aisyiyah Kabupaten Sukoharjo di Kampung Pokakan, Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo Kota, Kamis (2/4).

Budi mengakui, konflik di kawasan Timur Tengah memengaruhi aktivitas impor nafta, sebagai bahan utama industri plastik di Indonesia.

“Nafta itu impor dari Timur Tengah. Jadi sangat terdampak dari bahan baku yang kita ambil dari sana. Apa yang kita lakukan sekarang? Kita mencari alternatif pengganti dari negara lain,” ujar Budi.

Baca Juga: Tolak Ciu Bekonang, Puluhan Anggota Ormas Islam Geruduk Gedung DPRD Sukjoharjo, Ini Tuntutan Mereka

Nafta merupakan senyawa hidrokarbon turunan minyak bumi yang menjadi komponen penting dalam produksi plastik, resin, karet, hingga pelarut. Ketergantungan terhadap pasokan dari Timur Tengah membuat Indonesia harus sigap mencari solusi ketika terjadi gangguan.

Menurut Budi, pemerintah tidak tinggal diam. Sejumlah langkah konkret telah ditempuh, termasuk menjalin komunikasi dengan berbagai negara potensial seperti India, serta membuka peluang kerja sama dengan negara-negara di kawasan Afrika dan Amerika.

Baca Juga: Angin Kencang Mendominasi Bencana Alam Di Sukoharjo Sepanjang Maret 2026, Kerugian Materi Puluhan Juta

“Memang ini tidak bisa instan. Dari yang sebelumnya bergantung pada Timur Tengah, kini harus beralih ke negara lain. Tapi kami optimistis proses ini bisa berjalan dengan baik, sehingga harga bisa kembali normal,” jelasnya.

Tak hanya itu, Kementerian Perdagangan juga telah berkoordinasi dengan asosiasi dan pelaku industri dalam negeri guna memetakan kebutuhan serta mencari sumber pasokan alternatif yang paling memungkinkan.

Komunikasi intensif juga dilakukan dengan perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri untuk mempercepat pencarian pemasok baru.

Budi menegaskan, fenomena ini bukan hanya dialami Indonesia. Sejumlah negara lain seperti Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, Thailand, hingga Taiwan juga menghadapi tantangan serupa akibat ketergantungan terhadap pasokan nafta dari Timur Tengah.

Meski demikian, pemerintah memastikan upaya menjaga kelangsungan industri tetap menjadi prioritas utama. 

“Yang terpenting, produksi di dalam negeri harus tetap berjalan normal. Pasokan bahan baku kita jaga agar industri plastik tidak terganggu,” tegasnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#impor nafta timur tengah #harga plastik mahal #mendag budi santoso #sukoharjo