Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sapi untuk Kurban di Nguter Sukoharjo Bakal Langka? Peternak Enggan Pelihara karena Trauma PMK

Iwan Kawul • Minggu, 5 April 2026 | 17:37 WIB
Petugas memberikan vaksinasi PMK kepada sapi ternak warga di Sukoharjo. (DOK. IWAN KAWUL/RADAR SOLO)Petugas memberikan vaksinasi PMK kepada sapi ternak warga di Sukoharjo. (DOK. IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Sejumlah peternak di wilayah Kecamatan Nguter, Sukoharjo, mulai mengurangi bahkan menghentikan secara total usaha pemeliharaan sapi untuk kebutuhan hewan kurban Iduladha 2026.

Kondisi lesu ini rupanya dipicu oleh bayang-bayang trauma dan kekhawatiran yang mendalam terhadap wabah penyakit ternak yang sempat merebakpada tahun sebelumnya.

Trauma Kerugian Akibat Penyakit Ternak

Peternak milenial sekaligus pemilik Setya Lembu Multifarm, Ebnu Setyo Sholeh, mengungkapkan, fenomena keengganan untuk beternak sapi kurban ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak awal tahun.

Baca Juga: Kondisi Bangunan Kritis, Disdik Klaten Ajukan Permohonan Rehab Mendesak Bangunan SDN 2 Sribit Delanggu ke Kemendikdasmen

Banyak peternak rumahan di sekitar kawasan Nguter yang kini memilih untuk mengurangi populasi sapi mereka secara drastis, bahkan tidak sedikit pula yang memutuskan untuk tidak lagi berjualan hewan kurban jenis sapi.

“Pembicaraan sejak Januari kemarin, banyak peternak masih takut ada penyakit. Jadi yang biasanya pelihara sapi untuk kurban, sekarang dikurangi, bahkan ada yang tidak jualan sama sekali,” ujarnya.

Menurut Ebnu, pengalaman pahit yang menimpa para peternak pada tahun 2025 menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut.

Ia sendiri mengaku harus menanggung kerugian yang cukup besar akibat serangan penyakit pada hewan ternaknya pada musim lalu.

“Pengalaman saya tahun 2025, ada 4 ekor sapi mati kena penyakit, dan 6 ekor sakit sehingga tidak terjual. Maka untuk 2026 ini, kami tidak menyediakan sapi kurban,” ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi untuk bisa tetap bertahan dan memutar roda usaha peternakan, Ebnu beserta sejumlah peternak lain kini mulai beralih memelihara ternak kambing dan domba yang dinilai memiliki daya tahan tubuh lebih kuat terhadap ancaman penyakit.

Baca Juga: Mengintip Geliat Solo Diecast Photography yang Ubah Mainan Jadi Karya Seni

“Kalau yang paling tahan itu domba. Jadi sekarang strategi kami bertahan dengan memanfaatkan potensi yang ada, lebih fokus ke kambing dan domba,” jelasnya.

Distankan Sukoharjo Jamin Keamanan Lewat Vaksinasi

Menyikapi fenomena keengganan peternak di Kecamatan Nguter, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Sukoharjo Bagas Windaryatno memberikan tanggapannya.

Ia menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sebenarnya tidak perlu disikapi secara berlebihan.

Pemerintah daerah, kata dia, tidak tinggal diam dan telah melakukan berbagai langkah pencegahan secara masif di lapangan.

“Untuk kekhawatiran peternak terhadap PMK itu tidak perlu terjadi. Kami dari pemerintah melalui Distankan sudah melakukan vaksinasi secara masif dan edukasi kepada para peternak, khususnya di kandang kelompok,” terangnya.

Selain menggencarkan program vaksinasi hewan, pihak Distankan juga terus memperketat pengawasan lalu lintas pergerakan ternak, terutama bagi hewan ternak yang baru masuk dari luar daerah Kabupaten Sukoharjo.

Baca Juga: Jokowi Ingatkan Relawan Laskar Gibran: Jangan Bikin Gaduh di Tengah Krisis Global

“Kasus PMK biasanya terjadi pada ternak baru dari luar daerah yang belum divaksin. Karena itu pengawasan lalu lintas ternak juga kami lakukan secara intensif,” tambahnya.

Bagas juga tak henti-hentinya mengimbau para peternak lokal untuk selalu menjaga kebersihan sanitasi kandang, rutin melakukan penyemprotan disinfektan, serta tidak menunda untuk segera melapor jika ditemukan adanya gejala penyakit pada hewan ternak mereka.

“Kalau ada gejala kesehatan menurun, segera hubungi Distankan atau penyuluh setempat, pasti akan kami tindak lanjuti,” tegasnya.

Terkait dengan peralihan fokus peternak dari komoditas sapi ke kambing dan domba, Bagas menilai bahwa pergeseran tren tersebut sejatinya juga dipengaruhi oleh hitung-hitungan faktor ekonomi para pelaku usaha di lapangan.

“Mungkin ini juga fenomena ekonomi. Para peternak melakukan prediksi dan memilih memaksimalkan ternak kambing dan domba. Tapi kami yakin di daerah lain tren sapi masih relatif stabil,” pungkasnya. (kwl)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#peternak trauma #distankan sukoharjo #hewan kurban #sapi #PMK