Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dorong Ketangguhan Bencana Berbasis Warga Inklusif, Sehati Sukoharjo Gelar Pelatihan CMDRR

Iwan Kawul • Selasa, 14 April 2026 | 17:01 WIB
Pelatihan Community Managed Disaster Risk Reduction (CMDRR) yang melibatkan penyandang disabilitas di sekretariatan SEHATI, Selasa (14/4). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Pelatihan Community Managed Disaster Risk Reduction (CMDRR) yang melibatkan penyandang disabilitas di sekretariatan Sehati, Selasa (14/4). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Perkumpulan Sehati Kabupaten Sukoharjo menegaskan pentingnya peran masyarakat sebagai aktor utama dalam pengurangan risiko bencana, melalui pelatihan Community Managed Disaster Risk Reduction (CMDRR), Selasa (14/4). 

Kegiatan yang digelar di Sekretariat Sehati itu menitikberatkan pada ketangguhan berbasis warga, sekaligus penguatan manajemen risiko yang berbasis inklusivitas.

Ketua Perkumpulan Sehati Sukoharjo Edy Supriyanto menegaskan, paradigma penanggulangan bencana perlu bergeser dari sekadar berbasis masyarakat, menjadi benar-benar dikelola oleh masyarakat itu sendiri.

Menurutnya, pendekatan CMDRR menempatkan warga bukan lagi sebagai objek, melainkan subjek utama dalam setiap proses pengurangan risiko bencana.

“CMDRR menuntut kita untuk menggeser peran. Bukan kita yang mengerjakan untuk desa, tapi desa yang mengerjakan untuk dirinya sendiri dengan kita dampingi,” jelas Edy.

Baca Juga: Gugatan Ijazah Jokowi Kandas di PN Solo: Hakim Kabulkan Eksepsi, Perkara Dinyatakan NO!

Pelatihan tersebut diikuti oleh pengurus Sehati serta anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sukoharjo. Materi yang diberikan mencakup kerangka ketangguhan oleh masyarakat, manajemen risiko inklusif, hingga praktik pendampingan desa tangguh bencana berbasis studi kasus dan simulasi lapangan.

Edy menjelaskan, salah satu poin penting dalam pelatihan adalah memastikan keterlibatan kelompok rentan seperti lansia, difabel, anak-anak, perempuan, dan kelompok marginal dalam seluruh siklus pengurangan risiko bencana. Hal ini dinilai krusial agar tidak ada pihak yang tertinggal dalam upaya mitigasi maupun penanganan bencana.

“Manajemen risiko inklusif bukan sekadar jargon. Harus benar-benar diterapkan di lapangan, sehingga semua kelompok punya peran dan akses yang sama dalam proses pengambilan keputusan,” tegasnya.

Baca Juga: Rawan Tumbang, Dua Pohon Tua Di Bulakrejo Sukoharjo Ditebang

Melalui pelatihan ini, peserta juga dibekali kemampuan membedakan antara ancaman, kerentanan, dan kapasitas, serta memetakan ketiganya dalam kajian risiko partisipatif. Selain itu, peserta diajak memahami perbedaan antara pencegahan dan mitigasi sebagai dua strategi penting dalam pengurangan risiko bencana.

Perwakilan FPRB Retno Tri Nalarsih menambahkan, kolaborasi antara komunitas dan akademisi menjadi kunci dalam memperkuat implementasi CMDRR di lapangan. Pendekatan ini memungkinkan konsep akademis dapat langsung diterapkan bersama masyarakat.

“Kolaborasi ini penting agar kerangka akademis bisa langsung dipraktikkan bersama masyarakat. Kuncinya ada pada proses yang inklusif dan dipimpin warga,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk menerapkan pendekatan CMDRR di empat desa dampingan Sehati sepanjang 2026. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan program yang berkelanjutan karena lahir dari kebutuhan dan analisis masyarakat sendiri.

Edy menambahkan, perbedaan mendasar antara pendekatan berbasis masyarakat (CBDRR) dan CMDRR terletak pada kendali dan keberlanjutan program.

Baca Juga: Siswa PAUD Hingga SMP Negeri Dan Swasta Di Sukoharjo Dapat Seragam Gratis, Ini Kata Bupati Dan Ketua DPRD

Jika hanya berbasis masyarakat, program rentan berhenti ketika pendampingan selesai. Namun dalam CMDRR, masyarakat menjadi inisiator sekaligus pengelola sehingga program dapat terus berjalan.

“Kalau program lahir dari masyarakat sendiri, mereka akan menjaga dan melanjutkannya. Karena mereka yang paling memahami ancaman, kerentanan, dan kapasitas yang dimiliki,” tandasnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#sehati sukoharjo #Community Managed Disaster Risk Reduction #disabilitas sukoharjo #sukoharjo