Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Sulap Lahan Tidur Jadi "Sekolah Tani", Perusahaan Garmen ini Siapkan Masa Depan Buruh Jelang Pensiun

Iwan Kawul • Kamis, 16 April 2026 | 14:21 WIB
Karyawan PT Danliris menerima pelatihan terkait holtikultura. (Iwan Kawul/Radar Solo)
Karyawan PT Danliris menerima pelatihan terkait holtikultura. (Iwan Kawul/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Pemandangan berbeda terlihat di Desa Banaran, Kecamatan Grogol, Kamis (16/4). Sekitar 150 buruh PT Danliris yang biasanya berkutat dengan kain dan mesin jahit, kini tampak sibuk mengolah tanah. Di atas lahan tidur seluas 37 hektare, perusahaan garmen raksasa ini sedang merajut harapan baru bagi karyawannya yang akan memasuki masa purna tugas.

Konsep out of the box ini sengaja dihadirkan untuk membekali karyawan dengan keterampilan pertanian praktis. Direktur Umum PT Danliris, Harrison Silaen, menjelaskan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 1.000 karyawan dari total 8.000 tenaga kerja perusahaan yang memasuki masa pensiun.

Baca Juga: Kisah Hadi dan Sutiyah: Penjual Jamu Boyolali yang Naik Haji Setelah 30 Tahun Menabung

“Kami ingin mereka memiliki bekal saat kembali ke masyarakat. Banyak karyawan kami berasal dari desa; dengan keterampilan ini, mereka bisa mengelola lahan yang mungkin selama ini menganggur di rumah masing-masing,” ujar Harrison.

Program ini tergolong istimewa karena para karyawan yang "magang" menjadi petani tetap menerima gaji penuh seperti biasa. Harrison menegaskan bahwa orientasi utama program ini bukanlah keuntungan finansial perusahaan, melainkan bantuan nyata bagi kesejahteraan buruh.

Baca Juga: Sambangi Jokowi di Solo, Ahmad Ali Sebut Isu Ambil Alih Parpol Tak Logis: Ngapain Sekarang?

Bukti nyata keberpihakan tersebut terlihat dari distribusi hasil panen. Produk hortikultura seperti terong dijual ke sesama karyawan dengan harga di bawah pasar. Jika di pasaran harga terong mencapai Rp10.000 per kilogram, di sini karyawan cukup menebusnya seharga Rp7.000 per kilogram.

“Jika panen 100 kilogram, kita utamakan bagi ke karyawan dulu. Tujuannya memang untuk membantu ketahanan pangan internal kami,” tegasnya.

Baca Juga: Kemarau Datang Mei, BMKG: Solo Masih Berpotensi Diguyur Hujan

Ke depan, lahan luas tersebut diproyeksikan menjadi kawasan terpadu yang mencakup sektor perikanan, peternakan, hingga agrowisata. “Kami ingin sekolah-sekolah bisa datang ke sini untuk belajar. Ini bukan sekadar ladang produksi, tapi pusat edukasi pertanian modern,” imbuh Harrison.

Langkah visioner ini mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo, Bagas Windaryatno. Ia menilai program ini sebagai bentuk nyata dukungan terhadap swasembada pangan nasional.

“Konsep ini sangat mulia. Kami akan dukung penuh dengan meminjamkan alat mesin pertanian seperti traktor dan drone, serta menugaskan penyuluh untuk pendampingan teknis. Kami juga punya petani milenial yang bisa diajak bersinergi mengelola greenhouse,” kata Bagas.

Senada, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Sukoharjo, Setyo Aji Nugroho, menekankan bahwa langkah PT Danliris sejalan dengan amanat undang-undang.

“Menyiapkan masa pensiun melalui pelatihan atau konseling adalah kewajiban perusahaan. Apa yang dilakukan Danliris adalah implementasi nyata yang patut dicontoh perusahaan lain di wilayah Solo Raya,” tegas Setyo.

Di tengah tantangan ekonomi dan ketenagakerjaan, transformasi dari pabrik ke ladang ini membuktikan bahwa dedikasi perusahaan terhadap karyawan tidak berhenti di gerbang pabrik, melainkan berlanjut hingga masa tua yang mandiri. (kwl)

Editor : Kabun Triyatno
#PT Danliris #swasembada #karyawan #greenhouse #Garmen