RADARSOLO.COM – Banjir yang menggenangi lima kecamatan di Kabupaten Sukoharjo sejak Selasa (14/4) malam hingga Kamis (16/4) pagi menjadi bahan evaluasi serius pemerintah daerah.
Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Gatak, Baki, Grogol, Kartasura, dan Mojolaban.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengungkapkan, hasil mitigasi menunjukkan banjir dipicu oleh tingginya curah hujan yang terjadi secara merata di wilayah hulu hingga hilir.
”Curah hujan tinggi menyebabkan debit air meningkat. Air dari sungai-sungai kecil atau anak Bengawan Solo tidak bisa masuk ke Bengawan Solo karena elevasi muka air di sungai utama juga sedang tinggi,” jelasnya, Minggu (19/4).
Menurutnya, kondisi tersebut memicu efek backwater atau aliran balik, sehingga air meluap dan menggenangi permukiman warga. Situasi diperparah dengan kondisi saluran drainase yang tidak lancar di sejumlah titik.
Baca Juga: Rayap Besi Nekat Beraksi Di Siang Bolong, Sikat Rel KA Solo-Jogja Di Gatak Sukoharjo
”Drainase yang tidak optimal membuat air semakin lama surut. Ini yang memperparah genangan di beberapa wilayah,” lanjut Ariyanto.
Dari hasil evaluasi, BPBD mencatat kebutuhan mendesak akan pompa air untuk mempercepat penanganan banjir. Setidaknya dibutuhkan pompa di 17 pintu air. Namun saat ini, ketersediaan pompa masih sangat terbatas.
”Baru ada lima titik pompa. Tiga merupakan pompa mandiri milik masyarakat dan pemerintah desa, sementara satu unit berasal dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo,” ungkapnya.
Kondisi tersebut dinilai belum ideal untuk mengatasi banjir secara maksimal, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi secara bersamaan di berbagai wilayah. Ke depan, BPBD Sukoharjo mendorong adanya penambahan pompa air di titik-titik rawan serta perbaikan sistem drainase.
Selain itu, koordinasi dengan pemerintah pusat juga diperlukan untuk pengelolaan aliran Bengawan Solo agar lebih optimal saat musim hujan.
”Penanganan banjir tidak bisa parsial. Harus terintegrasi antara drainase, sungai, dan dukungan infrastruktur seperti pompa,” tegas Ariyanto. (kwl/adi)
Editor : fery ardi susanto