RADARSOLO.COM – Menjelang Idul Adha 2026, peternak hewan kurban di Kabupaten Sukoharjo waswas dagangannya tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Pemicunya bayang-bayang penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak.
Selain itu, kondisi ekonomi yang kurang stabil juga menjadi momok bagi pedagang hewan kurban. Mereka khawatir daya beli masyarakat menurun, dampak dari efisiensi anggaran.
Peternak kambing dan domba asal Kecamatan Nguter Andika Fauzi mengaku, tahun ini mengurangi stok secara signifikan. Jika biasanya menyiapkan 500 ekor kambing dan domba, musim kurban ini hanya menyediakan 200 ekor.
Baca Juga: Harga Aspal Dan Material Bangunan Merangkak Naik, RAB Proyek Di Sukoharjo Kena Revisi
Menurut Andika, langkah tersebut diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan lesunya penjualan hewan kurban.
“Melihat kondisi ekonomi sekarang yang kurang stabil, ditambah adanya efisiensi di berbagai sektor, jadi kemungkinan pembelian hewan kurban juga menurun,” ujarnya.
Tak hanya dari sisi jumlah ternak, harga jual daging kambing dan domba juga mengalami penurunan. Saat ini harga daging kambing di kisaran Rp 70 ribu per kilogram (kg). Padahal di tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai Rp 80 ribu-Rp 85 ribu per kg.
Baca Juga: Modus Baru Peredaran Narkoba Di Mojolaban Sukoharjo, Pengedar Pakai Aplikasi Private Messenger
Kekhawatiran lainnya, yakni penyakit PMK yang menjangkiti ternak. Menanggapi kekhawatiran tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Sukoharjo Bagas Windaryatno mengaku terus melakukan pengawasan terhadap kesehatan ternak menjelang Idul Adha.
Menurutnya, Distankan Sukoharjo secara masif melakukan vaksinasi serta edukasi kepada para peternak. Khususnya pada kandang-kandang kelompok, agar upaya pencegahan bisa dilakukan sejak dini.
Menurutnya, kasus PMK umumnya terjadi pada ternak baru yang masuk dari luar daerah. Terutama yang belum mendapatkan vaksinasi.
Karena itu, pengawasan lalu lintas ternak menjadi perhatian penting agar penularan tidak meluas. Bagas juga mengimbau para peternak untuk selalu menjaga kebersihan kandang, rutin melakukan disinfeksi, serta segera melapor apabila muncul gejala gangguan kesehatan pada ternak.
“Kalau ada gejala ternak kurang sehat, segera hubungi kami atau penyuluh pertanian setempat. Pasti akan kami tindak lanjuti,” tegasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto