Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Desa Polokarto Sukoharjo Getol Kembangkan Frutikultura, Sukses di Alpukat Miki Kini Bidik Pepaya

Iwan Kawul • Jumat, 1 Mei 2026 | 17:04 WIB
Kebun alpukat miki yang dibudi daya di Desa Polokarto, Sukoharjo. (Dok. Pemdes Polokarto).
Kebun alpukat miki yang dibudi daya di Desa Polokarto, Sukoharjo. (Dok. Pemdes Polokarto).

RADARSOLO.COM - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Sejahtera di Desa/Kecamatan Polokarto terus mengembangkan sektor frutikultura.

Sukses dalam budi daya alpukat varietas miki, giliran pepaya yang dilirik.

Suasana pagi di Desa/Kecamatan Polokarto, Sukoharjo kini terasa lebih hidup. Deretan pohon alpukat miki mulai berbuah dan siap panen.

Di antara hijaunya kebun, harapan akan desa mandiri tumbuh perlahan namun pasti. Bukan sekadar soal panen, tetapi bagaimana lahan desa bisa menjadi sumber ekonomi, wisata, hingga ruang belajar bagi masyarakat.

Budi daya alpukat miki menjadi pijakan baru bagi Pemerintah Desa (Pemdes) Polokarto untuk melangkah lebih jauh. Kini, mereka bersiap menambah budi daya pepaya di lahan seluas 3 hektare.

Baca Juga: Tiga Bocah Lolos Dari Maut Usai Hanyut di Dam Colo Mojolaban Sukoharjo, Satu Dirawat Di Rumah Sakit

Kepala Desa (Kades) Polokarto Suharno menjelaskan, pengembangan pertanian di desa tidak hanya mengejar hasil panen semata. Tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, sekaligus membuka peluang usaha baru.

“Setelah alpukat miki hasilnya baik, kami berencana menambah budi daya pepaya. Saat ini masih tahap pembibitan,” jelas Suharno, kemarin (1/5).

Menurut Suharno, bukan tanpa alasan memilih pepaya yang berdampingan dengan alpukat miki. Selain pangsa pasar lebih luas, pepaya juga lebih cepat menghasilkan dan memiliki banyak manfaat turunan bagi desa.

Baca Juga: May Day 2026, Buruh Sukoharjo Soroti PHK Terselubung hingga Tuntut Upah Layak

Pepaya tersebut nantinya tidak hanya untuk kebutuhan pasar umum, tetapi juga diarahkan untuk mendukung program satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Terutama sebagai suplai buah bergizi untuk kebutuhan menu makan bergizi gratis (MBG).

“Kami ingin hasil budi daya ini bisa masuk ke SPPG. Sehingga manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. Selain itu, pepaya juga mudah diterima semua kalangan dan memiliki nilai gizi yang baik,” imbuhnya.

Tak berhenti di sektor pangan, konsep yang dibangun BUMDes juga menyentuh sektor wisata desa. Lahan budi daya pepaya nantinya dirancang tidak hanya sebagai kebun produksi, tetapi juga destinasi wisata edukasi.

Anak-anak sekolah, keluarga, hingga masyarakat umum diharapkan bisa datang untuk belajar langsung tentang proses pertanian. Mulai dari pembibitan, perawatan tanaman, hingga masa panen.

“Kami ingin ada wisata edukasi. Jadi, masyarakat tidak hanya datang untuk membeli hasil panen, tapi juga bisa melihat prosesnya. Anak-anak bisa belajar bertani sejak dini,” ujarnya.

Bagi Suharno, desa berdaya adalah yang mampu memanfaatkan potensi lokalnya sendiri. Lahan yang sebelumnya hanya menjadi ruang kosong, perlahan diubah menjadi aset produktif yang memberi manfaat berlapis.

“Desa harus punya kekuatan sendiri. Kalau potensi pertanian dikelola dengan baik, hasilnya bisa untuk ekonomi, wisata, edukasi, bahkan mendukung program pemerintah seperti pemenuhan gizi. Ini yang sedang kami bangun,” tegasnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Alpukat miki #frutikultura #polokarto #sukoharjo #pepaya