RADARSOLO.COM – Menjelang Idul Adha, Tim Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Sukoharjo rajin memantau lalu lintas hewan kurban di sejumlah pasar.
Salah satunya Pasar Hewan Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Rabu (13/5).
Di sana, tim memeriksa kesehatan hewan, hingga penyemprotan cairan disinfektan.
Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan Distankan Sukoharjo Susilo menjelaskan, pantauan dilakukan saat pasaran Kliwonan (penanggalan Jawa).
Sebab momentum tersebut dimanfaatkan pedagang maupun pembeli untuk transaksi hewan kurban.
“Kebetulan hari ini pasaran Kliwonan di Pasar Hewan Bekonang. Kami bersama tim kesehatan hewan melakukan pantauan. Ada pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan kebuntingan, hingga status reproduksi apakah sapi masih produktif atau sudah tidak layak,” jelas Susilo.
Menurut Susilo, pemeriksaan berasarkan permintaan pembeli maupun pedagang.
Baca Juga: Picu Jalanan Macet Di Pasar Timur Stasiun Gawok, PKL dan Parkir Liar Ditertibkan
“Kami memastikan, secara syariat sudah memenuhi syarat. Ada pengecekan gigi juga. Rata-rata sapi di lokasi dijual untuk kurban. Semuanya sudah memenuhi syarat,” bebernya.
Selain hewan kurban, anakan sapi juga tak luput dari pemeriksaan. Maklum, setelah sapi milik pedagang laku, biasanya segera dibelikan anakan untuk dibesarkan kembali.
“Di sini banyak pedagang yang sekaligus menjual dan membeli. Jadi setelah sapinya terjual untuk kurban, mereka membeli sapi bibitan yang lebih kecil untuk dipelihara,” ujarnya.
Susilo mengakui, lalu lintas hewan kurban di Pasar Hewan Bekonang cukup tinggi. Sebab tidak hanya sapi lokal yang dijual. Ada juga sapi dari Karanganyar, Wonogiri, Boyolali, Klaten hingga Gunungkidul.
“Pasar Bekonang ini cukup strategis karena berada di antara Sukoharjo dan Karanganyar. Banyak pedagang maupun sapi yang masuk dari daerah lain,” bebernya.
Sementara itu, transaksi sapi di Pasar Hewan Bekonang saat ini belum terlalu signifikan. Hanya naik sekira 2-3 persen dibanding hari biasa.
“Justru yang banyak di sini adalah sapi-sapi bakalan atau bibit. Kemungkinan setelah menjual sapi kurban, mereka membeli sapi bibit untuk dibesarkan kembali,” jelas Susilo. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto