RADARSOLO.COM – Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto yang sejak lama dikenal sebagai kampung konveksi, kembali menunjukkan kreativitas warganya.
Tumpukan kain perca sisa produksi yang selama ini kerap dianggap limbah, disulap menjadi busana menarik dalam Lomba Desain Fashion Kain Perca yang digelar Tim Penggerak PKK Desa Wonorejo, Kamis (14/5).
Kegiatan bertema “Kreasi Baju/Gamis dari Kain Perca Batik dan Polos” itu diikuti perwakilan dari 22 RT se-Desa Wonorejo.
Beragam desain unik ditampilkan peserta, mulai gamis bernuansa etnik, busana modern berpadu motif batik, hingga kreasi warna-warni dari potongan kain polos.
Ketua Tim Penggerak PKK Desa Wonorejo Hasna Alifa mengatakan, kegiatan tersebut digelar sebagai upaya mengembangkan kreativitas masyarakat sekaligus memanfaatkan limbah kain perca agar memiliki nilai guna dan nilai ekonomi lebih tinggi.
Baca Juga: Polres Sukoharjo Sita 55,65 Gram Sabu di Kamar Kos, Tersangka Mengaku Sudah 8 Kali Beraksi
“Desa Wonorejo ini memang dari dulu dikenal sebagai desa konveksi. Hampir setiap hari ada sisa kain perca dari aktivitas produksi. Melalui lomba ini kami ingin menunjukkan bahwa kain sisa pun bisa diolah menjadi busana yang cantik, kreatif, dan bernilai ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya, lomba tersebut juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya batik yang dipadukan dalam berbagai desain busana modern. Selain itu, kegiatan mampu mempererat kebersamaan antarwarga karena setiap RT saling bekerja sama menyiapkan konsep hingga proses pembuatan kostum.
Baca Juga: Dramatis! Aksi Kejar-Kejaran Warnai Penangkapan Satpam Bank Di Solo Residivis Curanmor
“Bukan hanya soal lomba, tapi bagaimana warga bisa kompak, saling mendukung, dan bersama-sama berkreasi. Kami juga ingin ibu-ibu lebih percaya diri untuk mengembangkan kemampuan di bidang fashion,” tambahnya.
Suasana lomba berlangsung meriah. Para peserta tampil percaya diri memperagakan hasil karya mereka di hadapan warga dan tim penilai. Sorak dukungan dari masing-masing RT membuat acara semakin semarak.
Hasna berharap kegiatan serupa dapat terus digelar dan berkembang menjadi peluang usaha kreatif bagi masyarakat desa.
Menurutnya, kain perca yang sebelumnya hanya menjadi limbah dapat diubah menjadi produk bernilai jual seperti pakaian, tas, aksesori, hingga kerajinan lainnya.
“Harapannya kreativitas ini bisa berkembang menjadi potensi ekonomi baru bagi warga. Jadi kain perca tidak lagi dipandang sebagai sampah, tetapi bahan yang bisa menghasilkan karya dan pendapatan,” tandasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto