Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sukoharjo Waspada Hantavirus, Skrining Di 12 Puskesmas Dan Seluruh Rumah Sakit

Iwan Kawul • Senin, 18 Mei 2026 | 14:03 WIB
Ilustrasi layanan kesehatan di Puskesmas Sukoharjo Kota, yang diinstruksukan untuk skrining hantavirus. (Iwan Kawul/Radar Solo)
Ilustrasi layanan kesehatan di Puskesmas Sukoharjo Kota, yang diinstruksukan untuk skrining hantavirus. (Iwan Kawul/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sukoharjo waspadai potensi penyebaran hantavirus.

Skrining menyeluruh diterapkan di 12 puskesmas dan seluruh rumah sakit.

Sasarannya pasien yan memiliki gejala mengarah ke penyakit tersebut, maupun faktor risiko paparan lingkungan.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya deteksi dini sekaligus pencegahan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui tikus.

Baca Juga: Jalan Rusak Sering Picu Kecelakaan, Warga Gatak Sukoharjo Patungan Tambal Aspal Sendiri

“Di 12 puskesmas dan semua rumah sakit di Sukoharjo SOP-nya sudah sama. Kami melakukan skrining faktor risiko, skrining gejala, pemeriksaan penunjang, hingga skrining lingkungan sebagai langkah antisipasi hantavirus,” jelas Kepala Dinkes Sukoharjo Tri Tuti Rahayu, Senin (18/5).

Dalam skrining faktor risiko, petugas kesehatan menanyakan riwayat aktivitas pasien dalam satu hingga delapan minggu terakhir.

Di antaranya apakah pernah kontak dengan tikus atau kotorannya, membersihkan gudang, lumbung, rumah kosong maupun area berdebu yang berpotensi menjadi sarang tikus.

Selain itu, petugas juga menelusuri apakah pasien tinggal di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, memiliki aktivitas di pasar, area pertanian, peternakan maupun pergudangan, hingga adanya anggota keluarga atau lingkungan sekitar yang mengalami gejala serupa.

Baca Juga: Terkendala Lahan, 18 Desa dan Kelurahan di Sukoharjo Belum Miliki KDKMP

Dinkes juga meminta tenaga kesehatan mewaspadai gejala awal yang sering muncul pada penderita hantavirus. Gejala tersebut meliputi demam tinggi mendadak, nyeri otot berat, sakit kepala, mual, muntah, batuk, sesak napas hingga kondisi tubuh lemas berat.

“Kalau sudah berat bisa muncul gangguan pernapasan, tekanan darah turun sampai gangguan ginjal. Karena itu deteksi dini sangat penting,” jelasnya.

Apabila ditemukan kasus yang dicurigai, fasilitas kesehatan diminta melakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah lengkap, rapid test atau serologi antibodi hantavirus, pemeriksaan PCR hantavirus bila tersedia, serta foto toraks apabila pasien mengalami sesak napas.

Tidak hanya pemeriksaan pasien, Dinkes Sukoharjo juga melakukan skrining lingkungan untuk memutus sumber penularan.

Pemeriksaan dilakukan terhadap keberadaan tikus, jejak kotoran atau urin tikus, kondisi sanitasi rumah maupun gudang, sistem penyimpanan makanan, hingga ventilasi dan kebersihan lingkungan.

Tri Tuti menambahkan masyarakat juga diminta lebih berhati-hati saat membersihkan area yang diduga tercemar tikus.

Warga dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan, tidak menyapu kering kotoran tikus karena dapat menyebarkan partikel virus ke udara, serta menyemprotkan disinfektan terlebih dahulu sebelum dibersihkan.

“Masyarakat juga harus rajin mencuci tangan setelah kontak dengan lingkungan yang berisiko. Pencegahan sederhana ini penting untuk mengurangi potensi penularan,” tandasnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Pencegahan hantavirus #hantavirus #skrining #sukoharjo #puskesmas