Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sensasi Aneka Menu Daging Kuda Khas Polokarto Sukoharjo, Dipercaya Meningkatkan Vitalitas

Iwan Kawul • Jumat, 22 Mei 2026 | 15:15 WIB
Menu sate kuda di warung. (Iwan Kawul/Radar Solo)
Proses pembakaran sate di Warung Sate Kuda Bu Endang, Jalan Solo-Karanganyar, Desa Kayuapak, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo. (Iwan Kawul/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Aroma asap arang langsung menyambut setiap pengendara yang melintas di Jalan Raya Solo-Karanganyar arah Waduk Lalung, tepatnya di Desa Kayuapak, Kecamatan Polokarto.

Di pinggir jalan itu, tusukan demi tusukan sate kuda berjajar di atas bara merah menyala. Asap tipis mengepul perlahan, membawa aroma gurih yang menggoda siapa saja untuk berhenti sejenak.

Warung sederhana milik Endang itu sudah berdiri sejak 2020. Meski tampil sederhana, tempat makan tersebut cukup dikenal para penikmat kuliner tradisional, khususnya pecinta sate kuda.

Tak sedikit pelanggan datang dari luar Sukoharjo hanya untuk menikmati sensasi daging kuda bakar yang khas.

Baca Juga: Gunungan Sampah Bikin Pasar Gawok Sukoharjo Kumuh, Pedagang Sambat

Di tangan Endang, potongan daging kuda segar dibakar menggunakan arang kayu.

Cara tradisional itu sengaja dipertahankan karena dipercaya membuat aroma sate lebih harum dan rasa daging lebih nikmat.

“Kalau pakai arang itu aromanya beda. Daging juga lebih matang merata dan wangi asapnya terasa,” ujar Endang saat sibuk membolak-balik sate di atas tungku pembakaran.

Baca Juga: Warga Polokarto Sukoharjo Korban Laka Maut Bukit Bego Lumpuh, Bantuan Terus Mengalir

Sate kuda memang bukan kuliner biasa. Tekstur dagingnya lebih padat dibanding sate kambing atau sapi, namun tetap empuk ketika dibakar dengan tingkat kematangan yang pas.

Bumbu sederhana justru membuat cita rasa asli daging semakin terasa.

Selain sate bakar, Endang juga menyediakan menu tongseng kuda yang kuahnya kaya rempah, gule tetelan daging kuda serta goreng tetelan kuda.

Bagi pelanggan yang kurang cocok dengan daging kuda, tersedia pula sate kambing sebagai alternatif.

“Yang datang tidak semuanya berani makan sate kuda, jadi kami sediakan sate kambing juga,” katanya sambil tersenyum.

Sate kuda biasanya disajikan bersama sambal kecap, irisan cabai, bawang merah, kobis, dan tomat segar.

Perpaduan rasa gurih, manis, pedas, dan aroma asap arang menghadirkan sensasi sederhana yang justru dirindukan banyak penikmat kuliner tradisional.

Baca Juga: Dosen Predator FEBI UIN Solo Dinonaktifkan, Kembali Ancam Korban Ungkit Nilai Matkul Tidak Lulus

Di salah satu sudut warung, terpampang banner berisi berbagai manfaat daging kuda.

Mulai dari sumber protein tinggi hingga dipercaya membantu menjaga stamina tubuh. Tulisan itu kerap menjadi perhatian pelanggan yang baru pertama kali mencoba sate kuda.

Meski kuliner modern terus bermunculan, warung sate kuda seperti milik Endang tetap memiliki penggemar tersendiri.

Kesederhanaan tempat, cara memasak tradisional, serta rasa khas yang sulit ditemukan di tempat lain menjadi alasan banyak pelanggan kembali datang. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#vitalitas #Daging kuda #polokarto #sukoharjo #sate kuda