RADARSOLO.COM – Bupati Sukoharjo Etik Suryani mendukung kebijakan pembatasan gadget atau gawai bagi anak-anak.
Menurutnya, penggunaan handphone (HP) yang tidak terkontrol membawa dampak buruk terhadap tumbuh kembang dan pola belajar anak.
Etik ingin agar budaya membaca digaungkan kembali di Kota Makmur.
Sebab budaya literasi menjadi salah satu cara ampuh untuk mengurangi ketergantungan pada 'setan gepeng'.
Baca Juga: Jelang Idul Adha, Sukoharjo Nihil Penyakit PMK
“Ini saya sangat mendukung sekali. Karena ‘setan gepeng’ atau gawai ini dampaknya sangat buruk bagi anak-anak. Sebetulnya HP ini bagus, kalau ingin membuka jendela dunia, tapi bagi yang bisa memanfaatkan sesuai usia,” ujar Etik.
Menurut Etik, anak-anak masih berada dalam usia rawan dan membutuhkan pendampingan dalam menggunakan teknologi.
Karena itu, pembatasan penggunaan HP perlu diterapkan agar anak-anak tidak terlalu bergantung pada gadget dalam proses belajar.
Baca Juga: SD Unggulan Bukan Sekadar Label, Etik: Tak Kalah Dengan Sekolah SwastaPendidikan Terbaik
“Sudah disampaikan pak dinas pendidikan untuk siswa TK, PAUD, SD, SMP, sampai SMA. Jadi, ada jam-jamnya mereka memegang HP. Biar mereka bisa berpikir, dulu kita sekolah kan buka buku literatur. Jangan sampai mereka hanya percaya buka HP,” beber Etik.
Etik menilai, budaya membaca buku harus kembali ditanamkan kepada para pelajar agar kemampuan berpikir dan literasi mereka tetap terasah.
Ia berharap anak-anak lebih banyak belajar membaca buku dibanding hanya mencari jawaban instan melalui internet.
“Biar belajar membaca buku. Jadi membaca buku, belajar, dan adanya pembatasan ini tentunya komitmennya juga guru-guru harus bisa membawa diri,” lanjutnya.
Tak hanya untuk siswa, Etik juga menekankan kedisiplinan penggunaan HP bagi para guru saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Ia mengingatkan jangan sampai guru justru lebih sibuk memainkan HP ketika siswa dibatasi penggunaannya.
Baca Juga: PKL Timur Stasiun Gawok Sukoharjo Ditertibkan Awal Juni, Sementara Pasang Papan Larangan
“Jangan sampai anak-anak dibatasi, guru-guru justru mainan HP, nggak boleh. Anak-anak ditugasi, guru-guru mainan HP juga nggak boleh. Jadi selama mengajar, guru-guru HP harus ditaruh di tas,” tegasnya.
Menurut Etik, kebijakan tersebut akan diterapkan secara bertahap agar seluruh pihak, baik siswa maupun guru, dapat menyesuaikan diri.
Ia berharap pembatasan gadget di sekolah mampu menciptakan suasana belajar yang lebih fokus dan meningkatkan kualitas pendidikan di Sukoharjo.
“Ini juga perlahan-lahan. Yang penting ada komitmen bersama demi masa depan anak-anak kita,” tandasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto