RADARSOLO.COM - Di tengah hamparan sawah hijau di Dusun Pojok, Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, terdapat sendang tua yang hingga kini masih menyimpan aura mistis sekaligus ketenangan khas pedesaan.
Warga mengenalnya sebagai Sendang Eyang Sulur Pandan. Sebuah sumber air yang dipercaya memiliki banyak khasiat dan cerita turun-temurun sejak zaman dahulu.
Menuju ke lokasi Sendang Eyang Sulur Pandan, kita harus melewati jalan perkampung kecil di tengah areal persawahan yang membentang luas.
Di kejauhan, tampak pohon-pohon besar berusia puluhan tahun yang menaungi area sendang.
Baca Juga: Warga Perumahan Di Sukoharjo Ramai-Ramai Sembelih Kurban Di RPH
Akar-akarnya menjuntai ke bawah, menciptakan suasana teduh sekaligus menghadirkan kesan sakral. Di bagian tengah sendang, terdapat sumur sederhana, dengan papan bertuliskan “Sumber Air”.
Bangunan beratap seng dengan ornamen tradisional Jawa mengelilingi sumur itu. Meski tampak sederhana, tempat tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi warga sekitar.
Ketua RW Dusun Pojok Mujiono menjelaskan, sendang ini sudah dikenal sejak lama sebagai sumber air yang tidak pernah kering, meski musim kemarau panjang melanda. Airnya juga dipercaya memiliki khasiat tertentu bagi masyarakat.
“Airnya sering dimanfaatkan warga untuk pengobatan tradisional. Sampai sekarang masih banyak warga Pojok Mulur yang mengambil air di sini,” jelas Mujiono saat ditemui di lokasi, Jumat (29/5).
Meski terlihat asri, Mujiono mengaku Sendang Eyang Sulur Pandan menyimpan banyak cerita mistis. Warga percaya, tempat tersebut memiliki penunggu gaib, yang tak lain Eyang Sulur Pandan Putri.
“Kalau menurut cerita orang-orang tua dulu, penunggunya itu Eyang Sulur Pandan Putri. Dari dulu memang terkenal mistis,” bebernya.
Cerita lainnya, yakni bekas telapak kerbau yang konon pernah ditemukan di sekitar area sendang.
Kisah tersebut semakin menambah nuansa misterius tempat itu. “Dulu katanya ada bekas telapak kerbau,” hematnya.
Meski lekat dengan cerita mistis, sendang itu kerap digunakan untuk kegiatan spiritual dan tirakatan, terutama saat malam 1 Suro.
Pada waktu-waktu tertentu, beberapa warga datang untuk berdoa atau sekadar mencari ketenangan batin.
Baca Juga: Dukung Program BSAN, Etik: Sekolah Harus Menjadi Rumah Kedua
Lokasi tersebut memang cocok untuk ‘menepi’. Apalagi di siang hari, cahaya matahari yang menembus sela dedaunan menciptakan suasana damai dan menenangkan.
Sementara suara gemericik air dari saluran kecil di sekitarnya, membuat sendang itu terasa menyatu dengan persawahan.
Di balik kesan angker yang melekat, Sendang Eyang Sulur Pandan tetap menjadi bagian penting kehidupan warga Dusun Pojok.
“Tidak hanya sebagai sumber air, tetapi juga simbol sejarah, budaya, dan kepercayaan yang terus hidup di tengah masyarakat sampai sekarang,” ujar Mujiono. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto