Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kekeringan Intai Tiga Kecamatan Di Sukoharjo

Iwan Kawul • Minggu, 31 Mei 2026 | 11:43 WIB
Bupati Sukoharjo Etik Suryani dan Wabup Eko Sapto Purnomo dropping air bersih di Kecamatan Bulu, 2025 lalu. (Iwan Kawul/Radar Solo)
Bupati Sukoharjo Etik Suryani dan Wabup Eko Sapto Purnomo dropping air bersih di Kecamatan Bulu, 2025 lalu. (Iwan Kawul/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo sudah memetakan potensi kekeringan di wilayahnya, menjelang musim kemarau tahun 2026 ini.

Berdasarkan kajian kebencanaan yang dilakukan, Kota Makmur masuk dalam kategori potensi kekeringan sedang dengan luas wilayah terdampak mencapai 49.313,98 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, masyarakat perlu memahami bahwa musim kemarau merupakan siklus klimatologis yang terjadi setiap tahun.

Namun dampaknya dapat menjadi lebih berat apabila beriringan dengan fenomena El NinoGodzilla yang menyebabkan berkurangnya curah hujan secara signifikan.

Baca Juga: Benahi Kemacetan Di Timur Stasiun Gawok Sukoharjo, Rambu-Rambu Mulai Dipasang

“Musim kemarau dan El Nino merupakan dua fenomena yang berbeda. Ketika bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang sehingga kondisi menjadi lebih kering. Karena itu kami terus melakukan pemantauan dan langkah antisipasi,” ujar Ariyanto, Minggu (31/5).

Berdasarkan peta bahaya kekeringan yang dimiliki BPBD, terdapat tiga kecamatan yang memiliki potensi tinggi terdampak kekeringan, yakni Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru.

Ketiga wilayah tersebut selama beberapa tahun terakhir menjadi daerah yang paling sering mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih saat puncak musim kemarau.

Baca Juga: Si Jago Merah Mengamuk Di Sukoharjo, Lalap Gudang Kabel Dan Usaha Besi Bekas

Ariyanto menjelaskan, BPBD telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi kemungkinan terjadinya kekeringan pada tahun ini.

Salah satunya dengan menyiapkan armada distribusi air bersih serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa, dan instansi terkait.

Data BPBD menunjukkan, dampak kekeringan dalam tiga tahun terakhir cenderung fluktuatif. Pada tahun 2023, sebanyak empat kecamatan terdampak kekeringan dengan total 20 desa mengalami kesulitan air bersih. Jumlah warga yang terdampak mencapai 12.384 jiwa.

Untuk membantu masyarakat, BPBD mendistribusikan 2.798.000 liter air bersih melalui 624 tangki air ke wilayah terdampak.

Sementara pada tahun 2024, jumlah wilayah terdampak menurun menjadi tiga kecamatan. Sebanyak 13 desa, tiga sekolah dasar, dua sekolah menengah pertama, dan satu pondok pesantren terdampak kekeringan dengan total warga terdampak mencapai 7.242 jiwa.

“Selama tahun 2024 kami menyalurkan 2.967.000 liter air bersih atau setara 555 tangki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak,” jelasnya.

Baca Juga: Kecamatan Bulu Sukoharjo Panen Perdana Melon Sweet Lavender, Budi Daya Sistem Hidroponik Premium Berbasis IoT

Sedangkan pada tahun 2025, jumlah wilayah terdampak kembali menurun menjadi dua kecamatan dengan tujuh desa yang mengalami kekeringan. Jumlah warga terdampak tercatat sebanyak 2.651 jiwa.

BPBD telah mendistribusikan 1.245.000 liter air bersih melalui 249 tangki untuk memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau tahun lalu.

Menurut Ariyanto, tren penurunan jumlah wilayah dan warga terdampak tersebut menunjukkan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang dilakukan pemerintah daerah mulai memberikan hasil.

Meski demikian, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan memanfaatkan sumber air yang tersedia secara bijak selama musim kemarau berlangsung.

“Kami terus meningkatkan kesiapsiagaan. Apabila terdapat desa yang mulai mengalami kesulitan air bersih, pemerintah desa dapat segera melapor sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” tandasnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#el nino godzilla #kemarau #kekeringan #krisis air bersih #sukoharjo